Pemprov DKI Mulai Data Lokasi Terdampak Pembangunan MRT Thamrin-Kwitang
Jakarta — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai melakukan pendataan awal terhadap lokasi dan bangunan yang berpotensi terdampak pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Tahap 1 Segmen 1 Koridor Thamrin-Kwitang.
Pendataan dilakukan oleh Biro Pemerintahan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari tahapan persiapan pengadaan tanah untuk pembangunan proyek transportasi tersebut.
Sejumlah lokasi di kawasan Jalan Kramat Kwitang dan Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, mulai didatangi petugas. Mereka melakukan pendataan terhadap pihak-pihak yang berpotensi terdampak pembangunan MRT.
Ketua Subkelompok Penanganan Pengaduan Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Biro Pemerintahan Setda DKI Jakarta, Ebron Leonard Sirait, mengatakan pendataan awal merupakan bagian dari proses persiapan pengadaan tanah.
"Pendataan awal ini dilakukan oleh Tim Persiapan Pengadaan Tanah Pembangunan MRT Koridor Thamrin-Kwitang kepada pihak-pihak yang rencananya terdampak pembangunan," kata Ebron dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2026).
Sebelum pendataan dilakukan, petugas terlebih dahulu memberikan sosialisasi mengenai rencana pembangunan MRT kepada pihak-pihak yang berpotensi terdampak.
Menurut Ebron, pembangunan MRT Tahap 1 Koridor Thamrin-Kwitang diperkirakan memiliki panjang sekitar 1,76 kilometer. Pembangunan jalur tersebut direncanakan berlangsung secara bertahap.
"Pembangunan MRT direncanakan dilakukan secara bertahap," ujarnya.
Bagian dari Lintas Timur-Barat
Pembangunan Koridor Thamrin-Kwitang merupakan bagian dari pengembangan Lintas Timur-Barat MRT Jakarta. PT MRT Jakarta (Perseroda) saat ini tengah melakukan proses lelang sejumlah paket pekerjaan konstruksi untuk lintas yang menghubungkan Medan Satria, Bekasi, hingga Tomang, Jakarta Barat.
Proyek tersebut mencakup pembangunan jalur MRT bawah tanah yang membentang dari kawasan Bank Indonesia, Thamrin-Kebon Sirih hingga Kwitang-Senen.
Selain jalur bawah tanah, proyek Lintas Timur-Barat juga mencakup pembangunan depo di wilayah Jakarta Timur.
Lintas Timur-Barat MRT Jakarta ditargetkan mulai beroperasi pada 2031. Jalur tersebut diproyeksikan dapat melayani sekitar 284.000 penumpang setiap hari.
Sementara itu, pengembangan jaringan MRT Jakarta juga dilakukan melalui perpanjangan Lintas Utara-Selatan menuju Jakarta Kota. Proses pembangunan perpanjangan jalur tersebut saat ini dilaporkan telah mencapai sekitar 63 persen.
Perpanjangan Lintas Utara-Selatan menuju Jakarta Kota ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.
Dengan adanya pendataan awal di kawasan Thamrin-Kwitang, proses persiapan pengadaan tanah menjadi salah satu tahapan yang dilakukan sebelum pembangunan fisik MRT pada segmen tersebut dilaksanakan.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0