Blok M Tak Sekadar Simpul Transportasi, 50 Komunitas Dilibatkan dalam Pengembangan Kawasan

20 Sep 2026 - 20:06
Blok M Tak Sekadar Simpul Transportasi, 50 Komunitas Dilibatkan dalam Pengembangan Kawasan
Rangkaian kereta MRT melintas di kawasan Blok M, Jakarta, Rabu (10/3/2021). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Jakarta – Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, terus dikembangkan tidak hanya sebagai salah satu simpul transportasi publik, tetapi juga sebagai ruang publik yang hidup dan mampu mengakomodasi berbagai aktivitas masyarakat.

PT MRT Jakarta mengembangkan kawasan tersebut dengan pendekatan placemaking, yakni menciptakan ruang yang memiliki karakter sekaligus mendorong masyarakat untuk beraktivitas dan berinteraksi.

Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta, mengatakan komunitas menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan kawasan Blok M. Hingga kini, lebih dari 50 komunitas telah berkolaborasi dengan MRT Jakarta.

“Di Blok M ini kita sudah lebih dari 50 komunitas yang collaborate dengan kita,” kata Samuel dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026.

Menurut Samuel, komunitas yang terlibat memiliki latar belakang yang beragam. Mulai dari komunitas olahraga hingga kelompok yang menjalankan kegiatan keagamaan seperti pengajian.

Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa ruang publik di Blok M dapat digunakan oleh masyarakat dengan berbagai minat dan latar belakang.

Perpaduan Kultur Anak Muda dan Nostalgia

Samuel menjelaskan, pengembangan Blok M mengusung tema culture dan urban youth. Namun, unsur nostalgia juga tetap dipertahankan untuk menjangkau masyarakat lintas generasi.

Blok M selama ini memiliki sejarah sebagai salah satu kawasan yang lekat dengan kehidupan anak muda Jakarta. Karena itu, pengembangan kawasan tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan aktivitas baru, tetapi juga mempertahankan memori masyarakat terhadap kawasan tersebut.

“Kalau di Blok M kan temanya mungkin placemaking-nya culture ya, Skena. Anak-anak culture, anak Skena, tapi ada satu lagi sebenarnya, nostalgia. Orang-orang yang dulu mungkin angkatan ayah ibu kita gitu ya, dulu suka ke Blok M zaman SMA-nya, zaman sekolahnya, itu pun bisa bernostalgia kembali ke Blok M,” ujar Samuel.

Menurut dia, keberadaan komunitas juga tidak selalu harus dibangun melalui ajakan secara langsung. Ketika sebuah ruang memiliki karakter yang sesuai dengan identitas komunitas, masyarakat dapat datang dan menggunakannya secara mandiri.

“Biasanya komunitas ini enggak hanya perlu diajak, tapi kadang-kadang datang sendiri ke sana,” ucapnya.

Empat Prinsip Placemaking

Dalam pengembangan kawasan Blok M, MRT Jakarta menerapkan empat prinsip utama placemaking. Keempat prinsip tersebut mencakup akses dan keterhubungan, kenyamanan dan citra kawasan, aktivitas, serta keterlibatan masyarakat.

Samuel mengatakan sebuah kawasan perlu mudah dijangkau dan memiliki konektivitas yang baik. Selain itu, aspek keamanan, kebersihan dan kenyamanan juga menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang publik yang dapat digunakan masyarakat.

Kawasan juga perlu memiliki aktivitas yang berlangsung secara berkelanjutan serta mampu mendorong masyarakat untuk berinteraksi.

Melalui pendekatan tersebut, MRT Jakarta tidak hanya ingin menciptakan kawasan yang nyaman untuk dikunjungi atau ditinggali. Lebih jauh, kawasan diharapkan memiliki karakter yang membuat masyarakat merasa terhubung dan memiliki keterikatan dengan tempat tersebut.

“Jadi placemaking itu harapannya bisa membuat kotanya makin hidup lagi, liveable city. Tapi enggak cuma kota yang liveable atau nyaman ditinggali, tapi juga lovable,” tandas Samuel.

Dengan konsep tersebut, Blok M diarahkan menjadi salah satu ruang kota yang mempertemukan transportasi publik, aktivitas komunitas, budaya anak muda, hingga nostalgia lintas generasi dalam satu kawasan.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0