Perang Iran-AS Picu Lonjakan Harga Tiket, Kunjungan Wisatawan Eropa ke Asia Tenggara Menurun
Jakarta – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memberikan dampak terhadap industri pariwisata Asia Tenggara.
Kenaikan harga tiket pesawat internasional serta terganggunya jalur penerbangan melalui kawasan Timur Tengah menyebabkan jumlah wisatawan asal Eropa yang berkunjung ke sejumlah negara di kawasan ini mengalami penurunan.
Dilansir dari The New York Times melalui Kompas.com, Sabtu (1/8/2026), harga tiket penerbangan yang menghubungkan Eropa dan Asia meningkat tajam setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Pada sejumlah rute, tarif penerbangan bahkan dilaporkan hampir dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Selain kenaikan harga tiket, gangguan operasional di sejumlah pusat penerbangan utama Timur Tengah seperti Dubai dan Doha juga turut memengaruhi minat wisatawan untuk melakukan perjalanan jarak jauh menuju Asia.
Penurunan kunjungan wisatawan Eropa mulai dirasakan oleh sejumlah negara yang selama ini menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi, termasuk Indonesia, Thailand, dan Kamboja.
Di Indonesia, data terbaru menunjukkan bahwa konflik yang berlangsung sejak Februari 2026 telah berdampak pada penurunan jumlah wisatawan mancanegara. Sebelum konflik, total kunjungan wisatawan asing pada Januari 2026 tercatat mencapai 1.118.420 orang. Namun, pada periode Maret hingga April 2026, jumlah kunjungan menurun menjadi 1.088.166 wisatawan atau turun sekitar 6 persen.
Sementara itu, dampak perlambatan sektor pariwisata juga dirasakan langsung oleh para pekerja di Kamboja. Lam Lan, koki berusia 25 tahun yang bekerja di Bandara Internasional Siem Reap Angkor, mengaku jumlah hari kerjanya berkurang dari 30 hari menjadi hanya 20 hari setiap bulan.
Akibat berkurangnya jam kerja, pendapatan bulanannya turun dari sekitar 250 dolar AS menjadi 150 dolar AS. Kondisi tersebut semakin berat karena ia tengah mempersiapkan kelahiran anak keduanya.
Di Thailand, perlambatan kunjungan wisatawan Eropa juga mulai terlihat di sejumlah destinasi wisata populer. Di Provinsi Phang Nga, Thailand Selatan, tingkat pemesanan hotel dilaporkan turun hampir 50 persen sejak konflik di Timur Tengah pecah.
Suasana serupa terlihat di Dermaga Surakul, salah satu titik keberangkatan wisatawan menuju Pulau Khao Phing Kan. Jika sebelumnya kawasan tersebut dipadati wisatawan mancanegara, kini aktivitas wisata tampak jauh lebih lengang.
Meski demikian, sektor pariwisata di Indonesia, Thailand, maupun Kamboja secara umum masih relatif bertahan. Kunjungan wisatawan dari negara-negara Asia masih menjadi penopang utama sehingga dampak penurunan wisatawan Eropa belum sepenuhnya mengganggu aktivitas pariwisata secara keseluruhan.
Namun, sejumlah kota dan destinasi yang selama ini sangat bergantung pada wisatawan asal Eropa mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan daerah lain.
Pelaku industri pariwisata pun mewaspadai kemungkinan dampak yang lebih luas apabila konflik berkepanjangan dan biaya perjalanan internasional tetap tinggi. Penurunan kunjungan wisatawan Eropa dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat menghambat pemulihan sektor pariwisata sekaligus memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Tenggara.
Di Thailand, misalnya, sektor pariwisata menyumbang sekitar 20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Oleh karena itu, berlanjutnya penurunan wisatawan asing dari Eropa dinilai berpotensi memengaruhi kinerja ekonomi nasional secara lebih signifikan.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0