Serangan Siber AI Otonom Diduga Sasar Taiwan, Bobol 85 Akun Pemerintah
Jakarta - Serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan mampu menjalankan berbagai tahapan peretasan secara otonom terdeteksi menyasar Taiwan. Serangan tersebut disebut sebagai salah satu contoh awal serangan siber berbasis AI yang dapat menjalankan rangkaian operasi dari awal hingga akhir dengan campur tangan manusia yang sangat minim.
Temuan tersebut diungkap perusahaan keamanan siber asal Israel, Dream, dan pertama kali dilaporkan Financial Times (FT) sekitar pekan lalu.
Dalam serangan yang berlangsung sekitar empat hari tersebut, AI dilaporkan digunakan untuk menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari mencari target, mengidentifikasi kelemahan sistem, mencoba mendapatkan akses, hingga mencari alternatif ketika upaya sebelumnya gagal.
Bobol puluhan akun pemerintah Taiwan
Serangan tersebut dilaporkan berdampak pada sekitar 85 akun pemerintah Taiwan. Lebih dari 2.500 data pegawai juga disebut berhasil dicuri.
Serangan kemudian meluas ke badan pengawas keselamatan nuklir Taiwan dan sedikitnya tujuh perusahaan yang bergerak di sektor energi.
Menurut laporan FT, operasi tersebut memanfaatkan delapan model AI yang tersedia secara terbuka atau open source. Model-model tersebut digunakan secara bersamaan untuk mempercepat berbagai tahapan serangan.
Dream menemukan sebuah arsip daring berukuran sekitar 160 MB yang berisi 1.395 file. Dari arsip tersebut, peneliti menemukan penggunaan sedikitnya dua agen AI open source, yakni Hermes dan OpenClaw.
Kedua agen tersebut digunakan untuk menjalankan berbagai pekerjaan dalam operasi serangan. AI dapat membantu mencari target, menemukan kelemahan, mencoba masuk ke sistem, serta mencari metode alternatif ketika percobaan sebelumnya mengalami kegagalan.
Seiring operasi berlangsung, jumlah agen AI yang digunakan disebut bertambah hingga mencapai delapan. Agen-agen tersebut kemudian dapat bekerja secara bersamaan sehingga proses serangan dapat dilakukan dengan lebih cepat.
Aktivitas AI disamarkan sebagai pengujian keamanan
Meski sebagian besar proses dijalankan oleh AI, serangan tersebut tetap diduga dikendalikan oleh pelaku manusia di balik layar.
Salah satu metode yang digunakan adalah menyamarkan aktivitas berbahaya tersebut sebagai kegiatan pengujian keamanan. Cara ini diduga digunakan agar agen AI bersedia menjalankan instruksi yang diberikan dan tidak menolak tugas karena dianggap berbahaya.
Dengan demikian, AI tidak sekadar berfungsi sebagai alat yang menerima instruksi satu per satu dari manusia. Agen tersebut dapat menjalankan serangkaian pekerjaan secara mandiri dan mengambil langkah berikutnya berdasarkan hasil yang diperoleh dari tahapan sebelumnya.
Model seperti ini membuat operasi serangan dapat berlangsung dalam skala yang lebih besar dibandingkan metode tradisional yang sangat bergantung pada operator manusia.
Tidak memanfaatkan zero-day
Menariknya, serangan terhadap Taiwan tersebut tidak disebut memanfaatkan celah keamanan baru yang sebelumnya belum diketahui atau zero-day.
Padahal, AI memiliki kemampuan untuk membantu penyerang mencari kemungkinan kerentanan baru, termasuk menemukan celah yang belum diketahui sebelumnya.
Namun, dalam kasus yang diungkap Dream tersebut, tidak ditemukan bukti bahwa serangan menggunakan zero-day untuk menembus sistem korban.
Sebaliknya, peneliti menemukan bahwa pelaku memanfaatkan kelemahan yang relatif umum. Di antaranya adalah sistem yang terbuka untuk diakses, perlindungan kata sandi yang lemah, serta mekanisme autentikasi yang tidak memeriksa keabsahan akses dengan baik.
Artinya, kemampuan utama serangan tersebut bukan terletak pada kemampuan AI menemukan metode peretasan yang sama sekali baru.
AI justru digunakan untuk menggabungkan berbagai kelemahan yang sudah tersedia, kemudian secara otomatis mencoba berbagai cara untuk memperoleh akses ke sistem target.
Ancaman baru bagi keamanan siber
Kasus tersebut menunjukkan perubahan penting dalam lanskap keamanan siber. Ancaman tidak selalu membutuhkan eksploitasi teknologi baru untuk menjadi berbahaya.
Ketika AI mampu melakukan pengintaian, mencari kelemahan, mencoba berbagai metode akses, dan beradaptasi terhadap kegagalan secara otomatis, kelemahan keamanan yang sebelumnya dianggap biasa dapat dieksploitasi dalam skala dan kecepatan yang lebih besar.
Serangan semacam ini juga berpotensi mengurangi kebutuhan pelaku untuk mengawasi setiap tahapan operasi secara langsung. Manusia cukup memberikan tujuan umum, sementara agen AI dapat menjalankan sejumlah pekerjaan teknis secara mandiri.
Bagi organisasi pemerintah maupun perusahaan, perkembangan tersebut menegaskan pentingnya memperbaiki fondasi keamanan siber. Sistem yang terbuka tanpa kebutuhan, penggunaan kata sandi yang lemah, serta mekanisme autentikasi yang tidak memadai dapat menjadi titik masuk yang dimanfaatkan oleh serangan berbasis AI.
Kasus Taiwan pada akhirnya memperlihatkan bahwa ancaman AI dalam keamanan siber bukan semata-mata soal munculnya metode peretasan baru. Tantangan yang lebih nyata adalah kemampuan AI mengotomatisasi berbagai teknik yang sebenarnya sudah dikenal, lalu menjalankannya secara cepat, berulang, dan dalam skala yang jauh lebih besar.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0