Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Takut MSCI di Tengah Anjloknya IHSG

21 Okt 2026 - 19:32
Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Takut MSCI di Tengah Anjloknya IHSG
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna yang bertepatan dengan dengan tahun pemerintahannya, di Istana, Jakarta, Rabu (21/10/2026).(Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden.)

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak akan gentar menghadapi tekanan dari penyedia indeks pasar saham global asal Amerika Serikat (AS), Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pernyataan tersebut disampaikan di tengah gejolak pasar saham domestik menyusul rencana MSCI mengevaluasi status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market).

Prabowo menyampaikan hal itu dalam Sidang Kabinet Paripurna dalam rangka satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menilai berbagai tantangan yang dihadapi pemerintah tidak akan membuat Indonesia mundur. Ia secara khusus menyinggung MSCI yang dinilai berupaya menimbulkan kekhawatiran terhadap Indonesia.

"Kesulitan kita masih banyak, gangguan masih banyak, kita terus diadang, ada apa itu? Macam-macam lah. MSCI, macam-macam. Dia mau takut-takuti kita. Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapapun, dan tidak akan gentar," ujar Prabowo yang disambut tepuk tangan.

Prabowo juga menegaskan bahwa pemerintah memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi berbagai tekanan. Menurut dia, Indonesia merupakan bangsa yang tidak mengenal kata menyerah.

"Saudara sekalian, kita tidak takut. Kita punya kekuatan, kita punya keberanian, dan kita rela berkorban dan kita tidak mengenal menyerah," katanya.

Selain menegaskan sikap pemerintah terhadap tekanan eksternal, Prabowo mengisyaratkan bahwa pemerintah akan kembali memperketat efisiensi anggaran.

Ia menyebut penghematan dapat dilakukan dalam skala besar apabila diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan yang masih membayangi Indonesia.

"Kalau perlu, kita adakan penghematan besar-besaran. Kita lebih hemat lagi nanti," imbuhnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa efisiensi belanja pemerintah tetap menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan untuk menjaga ketahanan keuangan negara di tengah dinamika ekonomi.

Sebelumnya, MSCI mengumumkan rencana konsultasi resmi untuk menentukan apakah Indonesia masih layak mempertahankan status sebagai pasar berkembang (emerging market) atau berpotensi diturunkan menjadi pasar mandiri (stand-alone market).

Langkah tersebut berkaitan dengan sejumlah persoalan struktural di pasar modal Indonesia. MSCI menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham, konsentrasi kepemilikan yang dinilai terlalu tinggi, serta praktik perdagangan yang terkoordinasi.

Isu-isu tersebut menjadi perhatian karena transparansi kepemilikan dan kualitas pembentukan harga merupakan aspek penting dalam menilai aksesibilitas serta kelayakan suatu pasar bagi investor internasional.

Jika status Indonesia benar-benar diturunkan, perubahan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor global dan keputusan investasi yang mengacu pada klasifikasi pasar MSCI. Namun, dampak aktualnya akan bergantung pada hasil konsultasi, keputusan akhir MSCI, serta respons para pelaku pasar.

IHSG Tertekan, Kapitalisasi Pasar Menyusut

Pengumuman MSCI tersebut diikuti tekanan tajam di pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok 11,6% pada Jumat (16/10/2026).

Penurunan itu menghapus sekitar US$85 miliar atau setara Rp1.528 triliun kapitalisasi pasar saham Indonesia.

Tekanan berlanjut pada Senin (19/10/2026), ketika IHSG kembali melemah 3,64% dan ditutup di level 4.996,00. Level tersebut disebut sebagai posisi terendah dalam enam tahun.

Koreksi tajam tersebut menambah perhatian terhadap kondisi pasar modal nasional, terutama terkait kepercayaan investor, transparansi perdagangan, dan daya tarik saham Indonesia di mata investor asing.

Di tengah situasi tersebut, pernyataan Prabowo menegaskan sikap politik pemerintah bahwa Indonesia tidak akan menyerah menghadapi tekanan dari pihak luar. Meski demikian, tantangan bagi otoritas pasar modal tetap terletak pada upaya memperbaiki persoalan struktural yang menjadi sorotan MSCI.

Bagi investor, perkembangan selanjutnya akan bergantung pada langkah konkret pemerintah dan regulator dalam meningkatkan transparansi pasar, memperbaiki tata kelola, serta menindaklanjuti hasil konsultasi MSCI. Respons terhadap persoalan tersebut akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0