Tinggalkan Gaji Rp2,5 Miliar di Huawei, Pria Ini Pilih Jadi Petani Jagung

28 Agu 2026 - 15:39
Tinggalkan Gaji Rp2,5 Miliar di Huawei, Pria Ini Pilih Jadi Petani Jagung
Ning Boyu (30) memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan di Huawei dengan gaji sekitar 140.000 dollar AS (Rp 2,52 miliar) per tahun. Ia memilih untuk kembali membantu keluarganya bertani jagung di kampung halaman.(weibo)

Jakarta – Ning Boyu (30), mantan principal research engineer Huawei, membuat keputusan yang tidak biasa. Setelah memperoleh gaji sekitar 140.000 dollar AS atau setara Rp2,5 miliar per tahun, Ning memilih meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke kampung halaman untuk membantu keluarganya bertani jagung.

Ning mengundurkan diri dari Huawei pada 5 Agustus 2026. Ia kemudian pulang ke Shaodong, Provinsi Hunan, China.

Pada hari pertamanya membantu keluarganya memanen jagung, Ning hanya memperoleh upah 10 yuan atau sekitar Rp26.480. Meski jumlah tersebut sangat jauh dibandingkan penghasilannya ketika bekerja di Huawei, Ning mengaku puas.

Keputusannya itu kemudian menjadi perbincangan di media sosial China. Sejumlah warganet mempertanyakan pilihannya dan menilai Ning berpotensi menyia-nyiakan kemampuan teknis yang telah dimilikinya.

Padahal, Ning memiliki latar belakang akademis yang kuat. Ia menempuh pendidikan sarjana hingga doktoral di University of Electronic Science and Technology of China.

Semasa kuliah, Ning telah menerbitkan 21 makalah ilmiah yang membahas teknologi wireless. Ia juga dikenal aktif di berbagai bidang di luar akademik, termasuk memecahkan rekor lompat tinggi di kampus, memenangkan kompetisi renang, serta menjadi kreator konten di platform Bilibili.

Gaji Tinggi dan Program "Genius Youth" Huawei

Di Huawei, Ning bekerja sebagai principal research engineer melalui program rekrutmen talenta muda "Genius Youth". Program tersebut dirancang Huawei untuk menjaring lulusan universitas dengan kemampuan terbaik dan menawarkan kompensasi yang jauh di atas standar industri.

Ning termasuk dalam kelompok penerima bayaran tertinggi di program tersebut. Pekerjaannya berfokus pada penelitian teknologi wireless, yang memiliki siklus pengembangan relatif panjang sebelum menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat atau diterapkan secara nyata.

Namun, pekerjaan tersebut justru menjadi salah satu sumber tekanan bagi Ning.

Ia mengaku sistem evaluasi kinerja di Huawei membuatnya merasa seperti sedang bermain video game. Hampir seluruh aktivitas pekerjaan diukur berdasarkan target dan indikator kinerja.

Bagi Ning, sistem tersebut menjadi tantangan tersendiri karena penelitian yang dilakukannya membutuhkan waktu panjang. Hasil penelitian tidak selalu dapat ditunjukkan dalam periode evaluasi yang singkat.

Kondisi itu membuatnya kerap merasa terisolasi.

Ning juga mulai mempertanyakan nilai komersial penelitian yang dilakukannya bagi Huawei serta masa depan keahliannya di tengah perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI).

"Kalau suatu saat AI bisa melakukan hal-hal itu, lantas apa nilai dari kemampuan yang sedang saya kembangkan sekarang?" kata Ning, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari VnExpress.

Bukan Talenta Huawei Pertama yang Memilih Keluar

Ning bukan satu-satunya talenta dari program rekrutmen unggulan Huawei yang memilih meninggalkan perusahaan.

Sebelumnya, Peng Zhihui juga mengambil keputusan serupa. Peng bergabung dengan program serupa pada 2020 dengan gaji tahunan mencapai 2 juta yuan, yang kala itu setara sekitar 287.000 dollar AS atau Rp5,17 miliar.

Peng sebelumnya telah dikenal di media sosial berkat berbagai temuannya, termasuk lengan robotik dan sepeda otomatis.

Pada Desember 2022, Peng meninggalkan Huawei untuk membangun bisnisnya sendiri. Ia kemudian ikut mendirikan AgiBot, perusahaan robotika yang berkembang menjadi salah satu produsen robot humanoid terbesar di dunia.

Bertani Hanya Sementara

Meski kini menjalani aktivitas sebagai petani jagung, Ning menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan berarti ia meninggalkan dunia riset untuk selamanya.

Ia telah menerima beasiswa pascadoktoral Marie Curie dan tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan penelitian di KTH Royal Institute of Technology, Swedia.

Setelah menyelesaikan program tersebut, Ning berencana kembali ke China.

"Saya suka menganggap diri saya sebagai aktor dalam hidup saya sendiri. Naskah bulan ini mungkin saya jadi petani, sementara bulan depan saya mungkin jadi sopir," ujar Ning.

Menurutnya, pengalaman bertani memberikan perspektif baru mengenai kehidupan dan tantangan yang dihadapi orang-orang yang bekerja di bidang berbeda dari dunia riset yang selama ini digelutinya.

"Esensi hidup adalah pengalaman. Kamu tidak perlu membuktikan diri ke siapa pun," kata Ning.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0