Retinopati Diabetik Ancam Penglihatan, Kemenkes Dorong Skrining Mata untuk Cegah Kebutaan

23 Jul 2026 - 09:19
Retinopati Diabetik Ancam Penglihatan, Kemenkes Dorong Skrining Mata untuk Cegah Kebutaan
Ilustrasi pemeriksaan mata (Magnific/Kompas)

Jakarta – Gangguan penglihatan pada lansia yang menyandang diabetes kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda retinopati diabetik, salah satu komplikasi diabetes yang dapat menyebabkan kebutaan apabila tidak dideteksi dan ditangani sejak dini.

Hal itu mengemuka dalam Forum Jurnalis Kesehatan yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan di Jakarta, Senin (20/7/2026). Para pakar menekankan pentingnya skrining mata secara rutin bagi penyandang diabetes untuk mencegah kerusakan penglihatan permanen.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, menjelaskan bahwa diabetes yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah di berbagai organ tubuh, termasuk mata.

"Diabetes ini tidak datang sendiri, ia membawa 'teman-temannya' seperti kolesterol, obesitas, dan hipertensi yang memperparah kerusakan pembuluh darah, mulai dari memicu retinopati diabetik pada mata, hingga menyumbang 20 hingga 30 persen kasus pasien cuci darah," ujar Prof. Em Yunir.

Menurutnya, kombinasi berbagai penyakit penyerta tersebut membuat risiko komplikasi diabetes semakin besar apabila kadar gula darah tidak dikelola dengan baik.

Gangguan Penglihatan Bukan Bagian Normal dari Penuaan

Pada kesempatan yang sama, Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi., Ph.D., Sp.M., menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap retinopati diabetik. Ia menilai banyak orang menganggap penurunan fungsi penglihatan pada penderita diabetes sebagai hal yang wajar seiring bertambahnya usia.

"Muncul normalisasi yang kurang pas di tengah masyarakat bahwa gangguan fungsi penglihatan di usia tua akibat diabetes dianggap sebagai sesuatu yang wajar, padahal kebutaan ini sebenarnya sangat bisa dicegah," kata Prof. Bayu.

Ia menjelaskan bahwa retinopati diabetik pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan gejala yang khas. Akibatnya, banyak pasien baru menyadari adanya gangguan ketika kerusakan retina telah memasuki tahap lanjut.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Penurunan ketajaman penglihatan.
  • Warna terlihat kurang cerah.
  • Muncul bintik-bintik hitam pada penglihatan.
  • Penglihatan kabur atau berbayang.
  • Kesulitan melihat pada malam hari.

"Kerusakan pembuluh darah di belakang bola mata ini terjadi secara bertahap dan membuat sebagian besar pasien sama sekali tidak menyadari ancamannya dalam lima tahun pertama diabetes," ujar Prof. Bayu.

Karena itu, ia mengimbau penyandang diabetes agar tidak menunda pemeriksaan mata secara berkala meskipun belum merasakan keluhan penglihatan.

 

Kemenkes Perluas Deteksi Dini Melalui Program Cek Kesehatan Gratis

Sementara itu, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah terus memperkuat upaya deteksi dini diabetes melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Melalui program tersebut, masyarakat dapat memeriksakan kadar gula darah secara berkala sebagai langkah awal mendeteksi diabetes maupun memantau kondisi pasien.

"Melalui program CKG, masyarakat sudah bisa memeriksakan gula darah secara berkala. Dan kami sedang mengintegrasikan layanan agar pasien diabetes juga bisa melakukan skrining retina di Puskesmas demi memperluas akses deteksi dini," ujar Nadia.

Menurutnya, integrasi layanan tersebut diharapkan dapat meningkatkan cakupan skrining retinopati diabetik sehingga komplikasi dapat ditemukan lebih cepat sebelum menyebabkan gangguan penglihatan permanen.

Tantangan Fasilitas dan Tenaga Spesialis

Meski demikian, upaya deteksi dini masih menghadapi sejumlah tantangan. Indonesia masih mengalami kekurangan sekaligus ketimpangan distribusi dokter spesialis mata, terutama di daerah.

Selain itu, sebagian besar fasilitas kesehatan tingkat pertama atau Puskesmas belum memiliki program skrining retinopati diabetik yang berjalan secara aktif. Keterbatasan sarana pendukung, seperti kamera retina (fundus camera), juga menjadi kendala dalam pemeriksaan dini.

Dengan memperkuat layanan skrining serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk rutin memeriksakan mata, pemerintah berharap kasus kebutaan akibat retinopati diabetik dapat ditekan. Para ahli menegaskan bahwa komplikasi ini pada dasarnya dapat dicegah apabila diabetes dikendalikan dengan baik dan pemeriksaan retina dilakukan secara berkala.

Top of Form

 

Bottom of Form

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0