Cuaca Bekasi Terasa Sangat Panas di Siang Hari dan Dingin Saat Malam, BMKG Jelaskan Penyebabnya
Bekasi - Warga Bekasi belakangan merasakan perubahan suhu yang cukup kontras dalam satu hari. Cuaca terasa sangat terik pada siang hari, sementara saat malam hingga dini hari udara berubah menjadi lebih dingin. Fenomena ini merupakan kondisi yang umum terjadi saat musim kemarau dan dikenal dengan istilah bediding.
Nadiyah (24), warga Bekasi Utara, mengaku suhu panas paling terasa ketika dirinya beraktivitas di luar rumah. Menurutnya, cuaca yang menyengat membuat tubuh lebih cepat merasa gerah dan haus.
"Paling kerasa kalau lagi aktivitas di luar rumah. Jadi lebih sering gerah dan cepat haus," ujar Nadiyah kepada Kompas.com, Jumat (10/7/2026).
Hal serupa dirasakan Achmad (28). Ia mengatakan perbedaan suhu antara siang dan malam hari cukup signifikan, terutama ketika berkendara menggunakan sepeda motor pada malam hari.
"Siang panas banget, apalagi kalau kena matahari langsung. Tapi kalau malam saat naik motor justru terasa lebih dingin, sampai harus pakai jaket," katanya.
Menurut Achmad, perubahan cuaca yang cukup drastis dalam satu hari membuat dirinya harus lebih menjaga kondisi tubuh agar tidak mudah jatuh sakit.
Menanggapi fenomena tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi siang yang terik dan malam yang terasa dingin merupakan dinamika cuaca normal selama musim kemarau.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agita Vivi, mengatakan fenomena ini dikenal sebagai bediding, yaitu kondisi ketika suhu udara terasa lebih dingin pada malam hingga dini hari akibat pelepasan panas dari permukaan bumi yang berlangsung lebih optimal.
"Kondisi inilah yang sering kali disebut sebagai bediding, di mana suhu udara terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga dini hari, yang kerap terjadi saat musim kemarau," ujar Agita dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).
Agita menjelaskan, fenomena tersebut berkaitan dengan semakin meluasnya musim kemarau di Indonesia bagian selatan, termasuk wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Pada periode ini, dominasi angin timuran dan menguatnya Monsun Australia membawa massa udara yang lebih kering. Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan awan berkurang sehingga hujan menjadi lebih jarang terjadi.
Minimnya tutupan awan membuat penyinaran matahari pada pagi hingga siang hari berlangsung lebih optimal. Akibatnya, permukaan bumi, terutama di wilayah dataran rendah, pesisir, dan kawasan perkotaan seperti Bekasi, mengalami pemanasan yang lebih kuat.
Sebaliknya, saat malam hari panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer karena langit cenderung cerah tanpa banyak awan yang menahan radiasi panas. Kondisi inilah yang menyebabkan suhu udara terasa lebih dingin dibandingkan siang hari.
BMKG memperkirakan perbedaan suhu antara siang dan malam masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan seiring puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada periode Juli hingga September 2026.
Di Bekasi, suhu udara pada siang hari diperkirakan dapat mencapai sekitar 33 derajat Celsius, sehingga masyarakat diimbau menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga disarankan untuk menjaga asupan cairan, menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari saat siang hari, serta mengenakan pakaian yang lebih hangat ketika beraktivitas pada malam hingga dini hari guna menjaga kondisi tubuh selama musim kemarau berlangsung.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0