Kasus Ebola di Kongo Tembus 5.021, Korban Tewas Capai 2.378 Jiwa
Kinshaha — Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus memburuk. Jumlah kasus terkonfirmasi telah mencapai 5.021 kasus, menjadikannya wabah Ebola terbesar dalam sejarah negara tersebut berdasarkan jumlah kasus.
Mengutip Reuters, Rabu (19/8/2026), data pemerintah yang dirilis pada Selasa malam menunjukkan wabah yang kini memasuki epidemi ke-17 di Kongo telah menewaskan 2.378 orang hingga akhir pekan.
Jumlah kematian tersebut telah melampaui rekor wabah Ebola terburuk sebelumnya di Kongo yang berlangsung pada 2018-2020.
Institut kesehatan masyarakat Kongo menyatakan wabah kali ini telah menjadi yang terbesar di negara tersebut dari sisi jumlah kasus sejak akhir Juli. Dengan lebih dari 5.000 kasus dan ribuan kematian, wabah ini juga tercatat sebagai epidemi Ebola terbesar kedua di dunia.
Rekor wabah Ebola terbesar masih dipegang epidemi Afrika Barat pada 2014-2016 yang menyebabkan jumlah infeksi dan kematian lebih tinggi.
Penanganan Wabah Dinilai Gagal
Meningkatnya jumlah kasus turut memicu kekhawatiran mengenai efektivitas penanganan epidemi di lapangan. Pejabat kesehatan setempat memperingatkan bahwa upaya yang dilakukan sejauh ini belum mampu membendung penyebaran penyakit tersebut.
"Upaya respons terbukti gagal membendung penyakit mematikan ini," kata pejabat kesehatan setempat.
Penyebaran Ebola terus meningkat sejak wabah tersebut secara resmi diumumkan pada 15 Mei lalu. Pemerintah menghadapi berbagai hambatan dalam menemukan, mengisolasi, dan menangani kasus baru.
Sejumlah kendala tersebut antara lain lemahnya infrastruktur kesehatan, penolakan dari sebagian komunitas masyarakat, ketidakstabilan keamanan di sejumlah wilayah, serta aksi protes yang dilakukan pekerja medis.
Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian wabah menjadi semakin sulit, terutama di wilayah yang akses terhadap layanan kesehatan dan tenaga medisnya terbatas.
Disebabkan Ebola Bundibugyo
Wabah yang sedang berlangsung disebabkan oleh virus Ebola Bundibugyo. Penyakit ini dapat menyebabkan demam berat, perdarahan, dan kegagalan organ pada kasus yang parah.
Ancaman wabah semakin besar karena, berdasarkan informasi yang dilaporkan, belum terdapat vaksin maupun pengobatan medis yang disetujui secara khusus untuk menangani spesies Ebola tersebut.
Dengan jumlah kasus yang telah melewati 5.000 dan angka kematian yang terus meningkat, otoritas kesehatan Kongo menghadapi tekanan besar untuk memperkuat respons epidemi.
Para ahli kesehatan juga menilai pengendalian penularan membutuhkan dukungan terhadap fasilitas kesehatan, tenaga medis, pelacakan kasus, serta keterlibatan masyarakat untuk memastikan pasien dan kontak erat dapat segera teridentifikasi dan ditangani.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0