Kecemasan pada Anak: Kenali Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya
Jakarta – Perasaan cemas sesekali merupakan hal yang normal dialami anak sebagai bagian dari proses tumbuh kembang. Rasa khawatir saat menghadapi ujian, memasuki lingkungan sekolah baru, atau berbicara di depan banyak orang umumnya akan mereda seiring waktu.
Namun, ketika kecemasan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua perlu lebih waspada. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kehidupan anak di rumah, sekolah, maupun saat bersosialisasi.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan UNICEF, kecemasan pada anak dapat dikelola melalui dukungan keluarga, pola hidup sehat, serta bantuan tenaga profesional apabila diperlukan.
Kecemasan merupakan respons alami tubuh
UNICEF menjelaskan bahwa kecemasan adalah perasaan yang muncul ketika seseorang merasa khawatir atau takut terhadap sesuatu. Dalam kadar yang wajar, respons tersebut justru membantu manusia mengenali bahaya dan melindungi diri.
Saat menghadapi situasi yang dianggap mengancam, otak akan mengaktifkan sistem kewaspadaan sehingga tubuh bersiap merespons. Akibatnya, detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, dan tubuh menjadi lebih siaga.
Meski demikian, apabila respons tersebut terus muncul meskipun ancaman tidak lagi ada atau berlangsung dalam waktu lama, kecemasan dapat menjadi masalah yang memengaruhi kualitas hidup anak.
Kecemasan dapat berbeda sesuai usia anak
UNICEF menyebutkan bahwa setiap tahap usia memiliki bentuk kecemasan yang berbeda.
Pada usia enam bulan hingga tiga tahun, anak umumnya mengalami kecemasan saat berpisah dari orang tua atau pengasuh. Mereka bisa menjadi lebih rewel atau mudah menangis. Kondisi ini merupakan bagian normal dari perkembangan anak dan biasanya berkurang ketika memasuki usia dua hingga tiga tahun.
Sementara itu, anak usia prasekolah sering kali memiliki ketakutan terhadap hal-hal tertentu, seperti hewan, serangga, petir, tempat gelap, air, atau ketinggian. Ketakutan tersebut umumnya juga akan berangsur menghilang seiring bertambahnya usia.
Memasuki usia sekolah, anak dapat merasa cemas ketika menghadapi lingkungan baru, ujian, atau situasi yang menuntut mereka tampil di depan orang lain.
Namun, apabila rasa takut dan khawatir tersebut tidak kunjung mereda hingga menghambat aktivitas belajar, bermain, atau kehidupan sosialnya, orang tua disarankan mencari bantuan profesional.
Kenali gejala kecemasan pada anak
Gejala kecemasan tidak hanya terlihat dari perubahan emosi, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi fisik anak.
Secara fisik, anak dapat mengalami napas terasa pendek, jantung berdebar, sakit kepala, gemetar, tubuh terasa lemas, sakit perut, diare, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, berkeringat berlebihan, maupun mulut terasa kering.
Sementara dari sisi emosional dan mental, anak dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, mudah panik, merasa tegang, cepat marah, mudah lelah, hingga merasa tidak mampu mengendalikan keadaan.
UNICEF mengingatkan bahwa setiap anak memiliki cara berbeda dalam menunjukkan kecemasan. Sebagian anak mungkin sering meminta diyakinkan atau ditenangkan oleh orang tua, sedangkan sebagian lainnya justru menjadi lebih pendiam sehingga kondisinya tidak mudah dikenali.
Cara membantu anak mengatasi kecemasan
Orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak menghadapi rasa cemas.
Langkah pertama adalah meyakinkan anak bahwa perasaan tersebut akan berlalu. Kalimat sederhana yang menunjukkan bahwa orang tua memahami apa yang dirasakan anak dapat membantu mereka merasa lebih aman.
Selanjutnya, orang tua dapat mengajak anak membicarakan apa yang sedang dirasakan, kapan kecemasan muncul, berapa lama berlangsung, serta kemungkinan penyebabnya. Semakin anak memahami emosinya, semakin mudah pula mereka belajar mengelolanya.
Mengalihkan perhatian anak pada aktivitas sederhana yang dapat mereka kendalikan juga dapat membantu meredakan kecemasan. Misalnya, mengajak anak memilih makanan yang ingin disantap atau mendiskusikan kegiatan yang akan dilakukan bersama.
Selain itu, menjaga pola hidup sehat juga penting. Tidur yang cukup, pola makan seimbang, serta membatasi penggunaan gawai terutama pada malam hari dapat membantu menjaga kesehatan fisik dan emosional anak.
UNICEF juga menyarankan latihan relaksasi sederhana, seperti bernapas perlahan menggunakan otot perut dan melatih anak memusatkan perhatian pada apa yang mereka lihat, dengar, cium, dan rasakan. Teknik tersebut dapat membantu mengurangi kepanikan saat kecemasan muncul.
Kapan harus mencari bantuan profesional?
Orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter apabila kecemasan membuat anak tidak lagi dapat menjalani aktivitas sehari-hari, seperti belajar di sekolah, bermain, atau berinteraksi dengan orang lain.
Dokter dapat melakukan evaluasi awal dan, bila diperlukan, merujuk anak kepada psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental untuk menjalani asesmen maupun terapi sesuai kebutuhannya.
UNICEF menegaskan bahwa hanya dokter dan tenaga profesional kesehatan mental yang dapat menegakkan diagnosis gangguan kecemasan.
Lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa kecemasan pada anak bukanlah cerminan kegagalan orang tua dalam mengasuh. Kondisi ini bukan pula perilaku yang dibuat-buat untuk mencari perhatian. Dengan dukungan keluarga, kasih sayang, dan penanganan yang tepat, sebagian besar anak dapat belajar mengelola kecemasannya sehingga tetap tumbuh dan berkembang secara optimal.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0