Harga Batu Bara Naik ke US$134,75 per Ton, Permintaan China Jadi Penopang
Jakarta— Harga batu bara kembali menguat pada perdagangan Rabu (19/8/2026), didorong oleh pasokan yang mengetat dan permintaan yang masih menopang pasar, khususnya di China.
Mengacu data Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu ditutup di level US$134,75 per ton, naik 0,37% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif harga batu bara. Dalam tiga hari terakhir, komoditas energi tersebut telah menguat 0,86%.
Di China, kenaikan harga batu bara di tingkat domestik terjadi ketika pasokan mulai mengetat, sementara permintaan belum sepenuhnya kuat. Kondisi tersebut membuat keberlanjutan reli harga sangat bergantung pada kemampuan pengetatan produksi dalam mengimbangi perkembangan permintaan dari sektor pengguna batu bara.
China Berpotensi Tingkatkan Impor
Kenaikan harga batu bara domestik China berpotensi memberikan dampak positif terhadap pasar impor. Apabila pasokan dalam negeri semakin ketat, pembangkit listrik dan trader dapat meningkatkan pembelian batu bara dari luar negeri, termasuk dari Indonesia.
Perkembangan pasar sebelumnya menunjukkan harga batu bara China cenderung menguat ketika stok di pelabuhan dan pembangkit listrik menurun. Pada saat bersamaan, inspeksi keselamatan tambang turut membatasi pasokan domestik.
Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan permintaan terhadap batu bara impor untuk kebutuhan blending.
Ketidakpastian produksi dan ekspor Indonesia menjadi salah satu perhatian pembeli China. Batu bara Indonesia, terutama dengan kalori menengah dan rendah, masih memiliki posisi penting di pasar Asia.
Indonesia merupakan salah satu pemasok utama batu bara termal ke kawasan tersebut. Gangguan produksi, keterbatasan kuota produksi berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), serta perubahan mekanisme ekspor menimbulkan kekhawatiran mengenai ketatnya pasokan batu bara Indonesia.
China sendiri merupakan salah satu pembeli terbesar batu bara Indonesia. Ketika pasokan Indonesia terganggu atau harganya meningkat, pembeli China dapat beralih ke pemasok alternatif seperti Australia dan Rusia.
Meski demikian, batu bara Indonesia memiliki keunggulan dari sisi harga dan karakteristik kalori sehingga belum mudah sepenuhnya digantikan. Kekhawatiran mengenai pasokan tersebut justru dapat mendorong pembeli China melakukan pembelian lebih awal untuk mengamankan persediaan.
Indonesia Kehilangan Pangsa Pasar Korea Selatan
Berbeda dengan China, pasar Korea Selatan menunjukkan perkembangan yang kurang menguntungkan bagi Indonesia.
Shanghai Metal Market melaporkan adanya perubahan sumber pasokan batu bara Korea Selatan pada semester I 2026. Rusia dan Australia menjadi pemasok yang mencatatkan pertumbuhan terbesar, sedangkan pengiriman dari Indonesia mengalami penurunan.
Ekspor batu bara Rusia ke Korea Selatan pada periode tersebut melonjak 89,4% menjadi 12,5 juta ton (mnt). Angka tersebut meningkat sekitar 5,9 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan pertumbuhan tersebut, Rusia menyumbang sekitar 22% impor batu bara Korea Selatan dan menjadi pemasok terbesar kedua setelah Australia.
Secara keseluruhan, impor batu bara Korea Selatan meningkat 21,3% menjadi 56,9 juta ton. Sekitar 59% dari tambahan impor bersih negara tersebut berasal dari Rusia.
Australia juga mencatatkan pertumbuhan pengiriman sebesar 35,4% menjadi 19,5 juta ton. Sebaliknya, pasokan batu bara dari Indonesia turun 2,5% menjadi 11,9 juta ton.
Kanada turut mencatat pertumbuhan pengiriman sebesar 33,3% menjadi 5,6 juta ton.
Perubahan tersebut menunjukkan Indonesia mulai kehilangan sebagian pangsa pasar Korea Selatan. Meningkatnya pasokan dari Rusia dan Australia memberikan lebih banyak pilihan bagi pembeli Korea Selatan untuk menggantikan batu bara Indonesia.
Secara keseluruhan, tambahan pasokan dari Rusia dan Australia mencapai sekitar 11 juta ton. Jumlah tersebut bahkan lebih besar dibandingkan kenaikan total impor Korea Selatan yang sekitar 10 juta ton.
Artinya, peningkatan pasokan dari kedua negara tersebut mampu menutup penurunan pengiriman dari Indonesia, Kolombia, dan Amerika Serikat.
Harga Batu Bara Eropa Tembus US$124
Penguatan juga terjadi di pasar batu bara global, meskipun pergerakannya berbeda berdasarkan wilayah dan jenis batu bara.
Harga batu bara termal Eropa tercatat menembus US$124 per ton. Kenaikan tersebut didorong oleh sejumlah faktor, mulai dari peningkatan harga minyak dan gas, risiko geopolitik, hingga penurunan produksi energi terbarukan dan nuklir selama periode gelombang panas.
Sementara itu, Kazakhstan tengah memperkuat persediaan batu bara untuk menghadapi musim pemanasan mendatang.
Negara tersebut telah mengamankan sekitar 4,1 juta ton batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kementerian Transportasi Kazakhstan mencatat sejak 1 Mei 2026, sebanyak 17,8 juta ton batu bara telah dikirim ke pembangkit listrik dan 1,2 juta ton disalurkan ke sektor komunal.
Saat ini, persediaan batu bara mencapai 4,1 juta ton di pembangkit listrik dan sekitar 300.000 ton untuk kebutuhan sektor komunal.
Pemerintah Kazakhstan juga menyiapkan rencana aksi untuk memastikan distribusi batu bara tetap berjalan selama musim dingin, terutama untuk pembangkit listrik dan fasilitas publik.
Operator kereta api Kaztemirtrans mengoperasikan sekitar 29.000 gerbong terbuka untuk mendukung pengangkutan batu bara bagi pembangkit listrik, rumah tangga, dan sektor industri.
Selain itu, pemerintah telah menerapkan sistem digital terpadu untuk memantau pergerakan batu bara secara real time, mulai dari produksi, pengiriman hingga penjualan.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0