Embun Upas Landa Dieng, 30 Hektar Tanaman Kentang Rusak, Kerugian Ditaksir Rp70 Juta per Hektar

14 Jul 2026 - 13:45
Embun Upas Landa Dieng, 30 Hektar Tanaman Kentang Rusak, Kerugian Ditaksir Rp70 Juta per Hektar
Fenomena embun es atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai embun upas kembali muncul di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah pada Selasa (9/6/2026). Sisi lain fenomena embun upas Dieng, sekitar 30 hektar tanaman kentang rusak dan petani merugi.(KOMPAS.COM/BAYU APRILIANO )

Jakarta – Fenomena embun upas atau embun beku kembali melanda kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, pada Kamis (9/7/2026) hingga Jumat (10/7/2026). Meski menjadi daya tarik wisata musiman, suhu dingin ekstrem tersebut menyebabkan puluhan hektar tanaman kentang milik petani mengalami kerusakan.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Ady, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan sementara di lapangan, luas tanaman kentang yang terdampak embun upas diperkirakan mencapai 25 hingga 30 hektar.

"Estimasi luas tanaman kentang yang terkena dampak embun upas mencapai kisaran 25-30 hektar berdasarkan pemantauan sementara di lapangan," kata Firman, dikutip dari Antara, Sabtu (11/7/2026).

Berdasarkan laporan resmi Pemerintah Desa Dieng Kulon bersama para petani, embun upas muncul di sejumlah titik di kawasan Dieng. Lokasi terdampak meliputi Lapangan Pandawa, area parkir Kompleks Candi Arjuna, Gasiran Aswatama, Kalibana, hingga Kompleks Setyaki.

Firman menjelaskan para petani sebenarnya telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk mengurangi dampak suhu dingin. Salah satunya dengan menyiram tanaman pada siang dan sore hari agar terbentuk uap air yang dapat menekan penurunan suhu pada pagi hari. Selain itu, petani juga memasang paranet dan memanfaatkan daun bambu sebagai pelindung tanaman dari embun beku.

Namun, upaya tersebut belum mampu sepenuhnya melindungi tanaman, terutama kentang yang masih berusia muda.

Menurut Firman, hasil wawancara dengan para petani menunjukkan bahwa tanaman kentang berumur sekitar 40 hari ke bawah umumnya tidak dapat diselamatkan setelah terkena embun upas. Tanaman muda tersebut langsung mati akibat paparan suhu yang sangat rendah.

Ia menambahkan, usia tanaman yang terdampak cukup beragam, mulai dari fase awal pertumbuhan hingga tanaman yang mendekati masa panen.

"Tanaman yang terdampak, ada yang pertanaman awal, ada yang mendekati panen," ujarnya.

Firman memperkirakan nilai kerugian yang dialami petani mencapai sekitar Rp70 juta per hektar. Besarnya kerugian bergantung pada usia tanaman dan tingkat kerusakan yang dialami.

"Tanaman yang berumur sekitar 40 hari ke bawah umumnya tidak dapat diselamatkan setelah terdampak embun upas dan kalau di-rata-rata, estimasi nilai kerugiannya mencapai Rp70 juta per hektar," jelasnya.

Akibat kondisi cuaca tersebut, petani yang mengalami gagal panen diperkirakan baru dapat kembali menanam kentang pada September 2026, ketika suhu mulai lebih bersahabat.

Di sisi lain, embun upas tetap menjadi fenomena alam yang menarik perhatian wisatawan. Hamparan kristal es yang terbentuk di permukaan rumput dan tanaman menjadi daya tarik khas Dataran Tinggi Dieng setiap musim kemarau. Berdasarkan laporan Kompas.com, puncak kemunculan embun upas diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus setiap tahunnya.

Meski memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata, kemunculan embun upas juga menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian karena berpotensi memicu gagal panen dan kerugian ekonomi bagi petani kentang di kawasan Dieng.

Top of Form

 

Bottom of Form

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0