PBB: 2,69 Miliar Orang di Dunia Belum Mampu Membeli Makanan Sehat

23 Jul 2026 - 11:09
PBB: 2,69 Miliar Orang di Dunia Belum Mampu Membeli Makanan Sehat
Ilustrasi makanan sehat. Laporan lima badan PBB menemukan 2,69 miliar orang di dunia belum mampu membeli makanan beragam yang memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi.(MAGNIFIC/Kompas)

Jakarta – Menjalani pola makan sehat masih menjadi kemewahan bagi miliaran orang di dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sekitar 2,69 miliar penduduk dunia belum mampu membeli makanan bergizi yang beragam untuk memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi harian mereka.

Temuan tersebut disampaikan dalam laporan tahunan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 yang disusun oleh lima badan PBB. Dilansir dari The Guardian, Senin (21/7/2026), laporan itu menyoroti perlunya langkah cepat untuk membuat makanan sehat lebih terjangkau bagi masyarakat.

Di sisi lain, laporan tersebut juga menunjukkan perkembangan positif. Tingkat kelaparan global menurun selama tiga tahun berturut-turut. Pada 2025, sekitar 7,8 persen populasi dunia mengalami kelaparan, turun dibandingkan 8,1 persen pada 2024.

Meski demikian, penurunan angka kelaparan belum diikuti dengan pemerataan akses terhadap makanan bergizi.

Laporan PBB menyebutkan biaya rata-rata untuk memenuhi kebutuhan makanan sehat mencapai 4,28 dolar AS berdasarkan paritas daya beli (Purchasing Power Parity/PPP) per orang per hari. Nilai tersebut jauh melampaui garis kemiskinan ekstrem global yang berada di angka 3 dolar PPP per hari.

Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Maximo Torero, mengatakan tingginya harga makanan sehat menjadi hambatan utama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Biaya tersebut secara signifikan lebih tinggi dibandingkan garis kemiskinan ekstrem global," ujar Torero.

Menurutnya, ketika makanan bergizi sulit dijangkau, banyak keluarga akhirnya hanya mengonsumsi pangan yang murah untuk memenuhi kebutuhan kalori tanpa memperhatikan keseimbangan nutrisi.

Torero menilai kebijakan pangan di banyak negara selama ini masih berfokus pada subsidi serealia dan bahan pangan pokok bertepung. Sementara itu, dukungan terhadap konsumsi sumber protein hewani, produk susu, buah, dan sayuran masih relatif terbatas.

"Kebijakan tersebut menyediakan kalori, tetapi bukan keberagaman makanan," katanya.

Kondisi itu dinilai turut berkontribusi terhadap meningkatnya berbagai penyakit tidak menular. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan prevalensi obesitas pada orang dewasa meningkat dari 12,1 persen pada 2012 menjadi 16,2 persen pada 2024.

Menurut Torero, peningkatan obesitas bukan hanya menjadi persoalan kesehatan masyarakat, tetapi juga menimbulkan biaya ekonomi yang besar dalam jangka panjang akibat meningkatnya beban penyakit kronis, seperti diabetes dan kanker.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, laporan PBB merekomendasikan peningkatan investasi pada infrastruktur pangan serta penelitian dan pengembangan sektor pertanian. Pemodelan dalam laporan menunjukkan bahwa rantai pasok yang lebih efisien berpotensi menurunkan harga daging, produk susu, buah, dan sayuran sehingga lebih mudah dijangkau masyarakat.

Selain itu, kebijakan yang mendorong konsumsi buah dan sayuran dinilai dapat memberikan manfaat ekonomi melalui penurunan beban penyakit yang berkaitan dengan pola makan tidak sehat.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0