Doomscrolling Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Picu Kecemasan hingga Sulit Tidur

15 Jul 2026 - 23:21
Doomscrolling Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Picu Kecemasan hingga Sulit Tidur
Ilustrasi berselancar di sosial media (Antara)

Jakarta – Kebiasaan menggulir berita atau unggahan bernada negatif di media sosial secara terus-menerus atau dikenal sebagai doomscrolling semakin menjadi perhatian para ahli kesehatan. Perilaku ini dinilai dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental, mulai dari meningkatkan kecemasan, memicu stres, hingga mengganggu kualitas tidur.

Mengutip laman kesehatan Medical Daily, doomscrolling merupakan kebiasaan mengonsumsi informasi yang memicu rasa takut, cemas, atau khawatir secara berulang, bahkan sering kali berlangsung lebih lama dari yang direncanakan.

Fenomena ini meningkat pesat sejak pandemi COVID-19, ketika masyarakat mengandalkan internet dan media sosial sebagai sumber utama untuk memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan situasi.

Para peneliti menjelaskan bahwa otak manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk lebih peka terhadap ancaman dibandingkan informasi yang bersifat positif. Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah tertarik pada berita negatif dan terus mencari pembaruan, meskipun informasi yang dikonsumsi justru memperburuk kondisi emosionalnya.

Sejumlah penelitian turut memperkuat temuan tersebut. Sebuah studi pada 2022 menunjukkan bahwa semakin tinggi paparan terhadap berita mengenai COVID-19, semakin besar pula risiko seseorang mengalami tekanan psikologis. Sementara itu, American Psychological Association (APA) menyebut paparan berkepanjangan terhadap berita yang memicu stres dapat meningkatkan tingkat kecemasan sekaligus menyebabkan kelelahan emosional.

Selain memengaruhi kondisi psikologis, kebiasaan doomscrolling juga berdampak pada kualitas tidur. Banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu menggulir media sosial menjelang waktu tidur. Tidak hanya paparan cahaya dari layar gawai yang menghambat produksi hormon tidur, tetapi juga konten emosional yang membuat otak tetap berada dalam kondisi siaga.

Menurut Sleep Health Foundation, penggunaan perangkat digital sebelum tidur dapat menghambat proses relaksasi tubuh sehingga seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dan mengalami penurunan kualitas istirahat.

Para peneliti juga menyoroti peran algoritma media sosial yang membuat pengguna semakin sulit menghentikan kebiasaan tersebut. Fitur seperti notifikasi, rekomendasi konten yang dipersonalisasi, serta mekanisme gulir tanpa batas (infinite scroll) mendorong pengguna untuk terus mencari informasi baru tanpa disadari.

Akibatnya, seseorang cenderung berpindah-pindah antara berita, video, dan notifikasi dalam waktu singkat. Pola konsumsi informasi seperti ini diduga dapat mengurangi kemampuan otak dalam mempertahankan fokus dan konsentrasi dalam jangka panjang.

Untuk mengurangi dampak negatif doomscrolling, para ahli menyarankan masyarakat menerapkan kebiasaan digital yang lebih sehat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain membatasi waktu membaca berita, menghindari konten yang memicu stres menjelang tidur, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta mengganti waktu menatap layar dengan aktivitas yang lebih menyehatkan seperti berolahraga, membaca buku, atau bersosialisasi.

Dengan mengelola penggunaan media sosial secara lebih bijak, masyarakat diharapkan dapat tetap memperoleh informasi yang dibutuhkan tanpa harus mengorbankan kesehatan mental maupun kualitas tidur.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0