Ekonom Soroti Meningkatnya Gen Z Bekerja di Sektor Informal, Dinilai Jadi Tantangan bagi Ekonomi Indonesia

26 Jul 2026 - 19:08
Ekonom Soroti Meningkatnya Gen Z Bekerja di Sektor Informal, Dinilai Jadi Tantangan bagi Ekonomi Indonesia
Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Jakarta – Fenomena semakin banyaknya Generasi Z (Gen Z) yang bekerja di sektor informal menjadi perhatian para ekonom. Di balik fleksibilitas yang ditawarkan, tren tersebut dinilai mencerminkan masih terbatasnya lapangan pekerjaan formal di Indonesia dan berpotensi menjadi tantangan bagi produktivitas tenaga kerja serta daya saing ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Ekonom sekaligus Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam, menilai meningkatnya jumlah pekerja muda di sektor informal bukan sepenuhnya menjadi indikator positif. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penciptaan lapangan kerja formal belum mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja baru.

Melansir CNN Indonesia, Bob Azam menjelaskan bahwa sektor informal mencakup berbagai jenis pekerjaan yang umumnya tidak memiliki hubungan kerja tetap, seperti pedagang kecil, pekerja lepas (freelancer), pengemudi transportasi daring, kreator konten, hingga pelaku usaha mikro. Meski mampu menjadi sumber penghasilan, sebagian besar pekerjaan tersebut belum memberikan perlindungan ketenagakerjaan yang memadai, seperti jaminan pensiun, kepastian pendapatan, maupun jenjang pengembangan karier.

Kondisi tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa sektor informal masih mendominasi struktur ketenagakerjaan nasional dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, lebih dari separuh pekerja Indonesia masih menggantungkan pendapatan pada pekerjaan yang relatif rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Bob Azam menilai salah satu penyebab utama meningkatnya pekerja informal adalah terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal. Di sisi lain, investasi yang masuk ke Indonesia dinilai tidak lagi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar seperti sebelumnya karena banyak industri mulai menerapkan digitalisasi dan otomatisasi proses produksi.

Akibatnya, pertumbuhan investasi tidak selalu diikuti oleh peningkatan kesempatan kerja yang signifikan.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan tingginya tingkat pengangguran usia muda. Berdasarkan data BPS, kelompok usia 15–24 tahun secara konsisten mencatat tingkat pengangguran terbuka tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Situasi ini mendorong banyak lulusan baru memilih pekerjaan yang tersedia di sektor informal agar tetap memperoleh penghasilan sambil menunggu peluang kerja yang lebih stabil.

Di sisi lain, hasil penelitian Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menunjukkan bahwa tidak seluruh Gen Z memasuki sektor informal karena keterpaksaan. Sebagian memilih jalur tersebut secara sadar karena menawarkan fleksibilitas waktu, peluang berwirausaha, serta kesempatan memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk memperoleh pendapatan.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh terhadap peluang seseorang memasuki pekerjaan formal. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki, semakin besar peluang memperoleh pekerjaan formal dengan prospek karier yang lebih baik.

Perkembangan ekonomi digital turut membuka berbagai jenis pekerjaan baru bagi generasi muda. Saat ini semakin banyak Gen Z yang memperoleh penghasilan sebagai kreator konten, desainer grafis lepas, digital marketer, affiliate marketer, hingga pelaku usaha melalui platform e-commerce.

Meski demikian, para ekonom mengingatkan bahwa Indonesia tidak dapat bergantung terlalu besar pada sektor informal sebagai penopang utama pasar tenaga kerja. Tanpa peningkatan jumlah pekerjaan formal yang berkualitas, produktivitas nasional berisiko melambat. Selain itu, pekerja informal umumnya memiliki akses yang lebih terbatas terhadap perlindungan sosial, pelatihan kompetensi, kepastian pendapatan, serta jenjang karier.

Karena itu, tantangan pemerintah ke depan tidak hanya terletak pada upaya menciptakan lebih banyak lapangan kerja, tetapi juga memastikan investasi mampu menghasilkan pekerjaan formal yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda. Peningkatan keterampilan digital, pendidikan vokasi, serta kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dinilai menjadi faktor penting agar Gen Z mampu membangun karier yang berkelanjutan.

Fenomena meningkatnya pekerja muda di sektor informal dinilai mencerminkan kemampuan adaptasi Gen Z terhadap perubahan dunia kerja yang semakin digital. Namun, apabila tren tersebut lebih banyak dipicu oleh sulitnya memperoleh pekerjaan formal dibandingkan pilihan karier yang disengaja, kondisi ini menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Kualitas pekerjaan yang tersedia saat ini dinilai akan sangat menentukan produktivitas tenaga kerja sekaligus daya saing ekonomi Indonesia pada masa mendatang.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0