Ekonomi Tumbuh di Atas 5 Persen, Ekonom Soroti Minimnya Dampak terhadap Pekerja
Jakarta – Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I-2026 masih terjaga di atas level 5 persen. Namun, capaian tersebut dinilai belum memberikan manfaat yang merata, khususnya bagi kelompok pekerja, karena pertumbuhan ekonomi belum diikuti dengan peningkatan lapangan kerja yang signifikan.
Ekonom sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini lebih banyak ditopang oleh sektor-sektor padat modal yang memiliki nilai tambah tinggi, tetapi relatif minim menyerap tenaga kerja.
"Pertumbuhan ekonomi lebih banyak terkonsentrasi pada sektor-sektor padat modal, seperti pertambangan, hilirisasi, jasa keuangan, dan industri berbasis teknologi yang menghasilkan nilai tambah tinggi, tetapi tidak banyak menyerap tenaga kerja," ujar Rizal kepada Kompas.com, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) tidak secara otomatis berdampak pada peningkatan kesempatan kerja, pendapatan masyarakat, maupun daya beli.
"Sehingga manfaat pertumbuhan lebih banyak dirasakan oleh pelaku usaha dan pemilik modal dibandingkan kelompok pekerja," katanya.
Di sisi lain, tren pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih terjadi di sektor industri padat karya semakin memperburuk kondisi pasar tenaga kerja. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi yang tercatat tinggi belum mampu menjawab tantangan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.
Rizal menilai pemerintah perlu mendorong kebijakan yang mampu memperkuat sektor-sektor penyerap tenaga kerja. Selain itu, biaya logistik dan energi perlu ditekan agar dunia usaha lebih kompetitif, disertai dengan peningkatan kepastian regulasi untuk mendorong investasi.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan vokasi dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
"Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya menghasilkan angka yang tinggi, tetapi juga mampu menciptakan pekerjaan yang lebih luas, berkualitas, dan berkelanjutan," tuturnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 berada di kisaran 5,4 persen. Ia optimistis laju pertumbuhan akan semakin meningkat pada semester II-2026 seiring terjaganya likuiditas di dalam sistem perekonomian.
"Kemarin 5,6 persen. Mungkin triwulan kedua 5,4 atau sekian persen," kata Purbaya kepada wartawan di Kementerian Keuangan, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, pemerintah memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai untuk mendukung aktivitas ekonomi sehingga pertumbuhan pada kuartal III dan kuartal IV 2026 diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan paruh pertama tahun ini.
"Yang saya tahu, semester kedua, triwulan ketiga, triwulan keempat akan tumbuh lebih cepat lagi. Karena cukup, kita pastikan cukup uang di sistem perekonomian untuk mendorong ekonomi," ujarnya.
Purbaya juga membantah anggapan bahwa kebijakan fiskal pemerintah dijalankan secara agresif hingga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi. Menurutnya, pengelolaan fiskal tetap dilakukan secara hati-hati dan terukur sehingga mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
"Enggak seperti kata orang-orang bilang brutal segala macam, enggak. Memang prudent dan hati-hati dengan dampak yang cukup baik ke ekonomi," kata Purbaya.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0