Menelusuri Jejak Sang Macan Volksraad di Museum MH Thamrin, Wisata Sejarah yang Tersembunyi di Jantung Jakarta

09 Jul 2026 - 02:06
Menelusuri Jejak Sang Macan Volksraad di Museum MH Thamrin, Wisata Sejarah yang Tersembunyi di Jantung Jakarta
Ruang koleksi museum MH Thamrin. (Merdika.id)

Jakarta Pusat – Di tengah padatnya kawasan Senen, Jakarta Pusat, berdiri sebuah museum yang mungkin belum banyak masuk dalam daftar destinasi wisata para pelancong. Padahal, bagi pencinta sejarah, Museum MH Thamrin merupakan salah satu tempat terbaik untuk memahami perjalanan perjuangan bangsa dari sudut yang lebih dekat dan personal.

Begitu melewati pintu kayunya yang tinggi, suasana langsung berubah. Riuh kendaraan dan panasnya udara Jakarta seolah tertinggal di luar. Interior bergaya rumah kolonial dengan lantai tegel klasik menghadirkan nuansa tenang, membuat pengunjung seperti diajak kembali ke masa ketika para tokoh pergerakan nasional menyusun strategi menuju kemerdekaan Indonesia.

Museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Gedung yang kini menjadi Museum MH Thamrin dulunya merupakan pusat aktivitas organisasi pergerakan nasional. Di tempat inilah Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang berdiri pada 1927 menjalankan berbagai aktivitas politiknya, dengan Mohammad Hoesni Thamrin sebagai salah satu tokoh penting.

Gedung ini juga menjadi saksi lahirnya Gabungan Politik Indonesia (GAPI) pada akhir 1930-an, sebuah aliansi besar yang menyatukan berbagai organisasi politik Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak bangsa di bawah pemerintahan kolonial Belanda.

Di halaman depan museum, pengunjung akan disambut patung MH Thamrin yang berdiri tegak. Memasuki ruang utama, deretan foto hitam putih dan panel informasi mulai mengisahkan perjalanan hidup tokoh yang dikenal sebagai "Macan Volksraad" tersebut.

MH Thamrin merupakan sosok yang unik pada zamannya. Meski berasal dari keluarga terpandang dan memiliki garis keturunan Belanda dari pihak kakeknya, ia justru memilih memperjuangkan kepentingan rakyat pribumi. Sebagai anggota Volksraad atau Dewan Rakyat Hindia Belanda, Thamrin dikenal lantang mengkritik berbagai kebijakan pemerintah kolonial.

Ia konsisten menyuarakan kesejahteraan masyarakat kecil, memperjuangkan perbaikan kampung-kampung di Batavia, hingga membela nasib para petani. Keberaniannya membuat namanya dikenang sebagai salah satu tokoh nasional yang gigih memperjuangkan keadilan.

Perjalanan tersebut tergambar melalui berbagai koleksi yang dipamerkan di museum. Pengunjung dapat melihat replika meja kerja, meja rias, lemari, blangkon, sepeda ontel, piring keramik, hingga replika kereta jenazah yang pernah mengantarkan MH Thamrin ke peristirahatan terakhirnya.

Salah satu bagian yang paling menyentuh adalah diorama penggeledahan rumah MH Thamrin oleh tentara Belanda pada 10 Januari 1941. Diorama tersebut menggambarkan bagaimana rumah sang tokoh diacak-acak ketika dirinya sedang terbaring sakit. Setelah peristiwa itu, Thamrin dikenai tahanan rumah dan seluruh akses komunikasi keluarganya diputus.

Belanda menuduh aktivitas politik Thamrin membahayakan pemerintah kolonial, bahkan mencurigainya memiliki hubungan dengan Jepang. Sehari setelah penggeledahan tersebut, tepat pada 11 Januari 1941, MH Thamrin meninggal dunia. Puluhan ribu warga Batavia mengiringi prosesi pemakamannya sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang telah mengabdikan hidupnya untuk rakyat.

Di antara berbagai koleksi museum, radio kuno merek Philips menjadi salah satu benda yang menarik perhatian. Radio tersebut menjadi pengingat bagaimana informasi pada masa itu diperoleh melalui siaran radio, jauh sebelum hadirnya televisi maupun internet.

Museum juga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif melalui ruang audio visual. Tayangan sejarah yang diputar membantu pengunjung memahami perjalanan hidup MH Thamrin serta dinamika perjuangan bangsa pada masa kolonial.

Bagi pengunjung yang gemar mengabadikan momen, museum menyediakan replika teras rumah bergaya Betawi yang menjadi salah satu sudut favorit untuk berfoto. Perpaduan unsur budaya Betawi dan bangunan kolonial menghadirkan latar yang unik sekaligus sarat nilai sejarah.

Meski tidak terlalu luas, Museum MH Thamrin cukup nyaman dijelajahi dalam waktu sekitar satu hingga satu setengah jam. Seluruh koleksi dapat dinikmati dengan santai tanpa terburu-buru.

Museum ini berlokasi di Jalan Kenari II Nomor 15, Kelurahan Kenari, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Lokasinya mudah dijangkau menggunakan TransJakarta dengan turun di Halte UI Salemba, KRL Commuter Line melalui Stasiun Cikini, transportasi daring, maupun kendaraan pribadi.

Museum buka setiap Selasa hingga Minggu pukul 09.00–16.00 WIB, termasuk pada hari libur nasional dan tanggal merah.

Harga tiket masuk pun sangat terjangkau melalui penggunaan JakCard, yakni Rp5.000 untuk dewasa, Rp3.000 bagi mahasiswa, Rp2.000 untuk anak-anak atau pelajar, serta tarif khusus bagi rombongan.

Fasilitas penunjang yang tersedia meliputi area parkir, musala, toilet, auditorium, hingga akses WiFi, sehingga pengunjung dapat menikmati wisata sejarah dengan lebih nyaman.

Bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sosok MH Thamrin sekaligus menyelami perjalanan pergerakan nasional Indonesia, museum ini layak menjadi salah satu destinasi yang dikunjungi saat berada di Jakarta. Di balik bangunannya yang sederhana, tersimpan kisah perjuangan seorang tokoh yang memilih berdiri bersama rakyat dan meninggalkan warisan sejarah yang masih relevan hingga hari ini.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0