Mayoritas Juara Piala Dunia Berasal dari Negara Katolik, Brasil Jadi Sorotan Usai Tersingkir di 2026

11 Jul 2026 - 20:38
Mayoritas Juara Piala Dunia Berasal dari Negara Katolik, Brasil Jadi Sorotan Usai Tersingkir di 2026
Sumber: Cnbc Indonesia/Aristya Rahadian

Jakarta - Piala Dunia 2026 memasuki babak perempat final dengan persaingan menuju trofi semakin sengit. Di tengah perebutan gelar, muncul fakta historis yang menarik perhatian, yakni dominasi negara-negara dengan mayoritas penduduk berlatar Kristen Katolik dalam sejarah juara Piala Dunia.

Sejak turnamen pertama digelar pada 1930 hingga edisi 2022, Piala Dunia telah berlangsung sebanyak 22 kali. Dari jumlah tersebut, 17 gelar berhasil diraih oleh negara-negara yang secara historis memiliki mayoritas penduduk beragama Katolik.

Brasil menjadi negara tersukses dengan koleksi lima gelar, disusul Italia yang mengangkat trofi empat kali. Argentina telah meraih tiga gelar, sementara Uruguay dan Prancis masing-masing dua kali. Spanyol melengkapi daftar dengan satu gelar juara.

Di sisi lain, negara dengan latar Kristen Protestan atau Anglikan mengoleksi lima gelar, yakni Jerman (termasuk Jerman Barat) sebanyak empat kali dan Inggris satu kali.

Hingga Piala Dunia 2022, belum ada negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, Hindu, Buddha, maupun agama besar lainnya yang mampu menjadi juara dunia.

Fenomena tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh sejarah perkembangan sepak bola modern yang berakar kuat di Eropa dan Amerika Latin, kawasan yang sejak lama didominasi negara-negara dengan tradisi Kristen, terutama Katolik.

Brasil Masih Raja Piala Dunia

Brasil tetap menjadi negara paling sukses sepanjang sejarah Piala Dunia dengan lima gelar yang diraih pada 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.

Di bawah Brasil terdapat Italia dan Jerman yang sama-sama mengoleksi empat trofi. Argentina menyusul dengan tiga gelar setelah menjadi juara pada 2022, sedangkan Prancis dan Uruguay masing-masing memiliki dua gelar. Inggris dan Spanyol masing-masing mengoleksi satu gelar.

Menariknya, seluruh keberhasilan Brasil mengangkat trofi terjadi ketika mayoritas penduduk negara tersebut masih didominasi pemeluk Katolik.

Saat Brasil terakhir kali menjadi juara dunia pada 2002, sekitar 80 persen penduduknya masih mengidentifikasi diri sebagai Katolik. Namun, dalam dua dekade terakhir, komposisi keagamaan di negara tersebut mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Mengutip The Times, sensus terbaru menunjukkan jumlah penduduk Katolik di Brasil kini berada di kisaran 55 persen. Sebaliknya, kelompok Kristen evangelis atau Protestan terus bertumbuh, dari sekitar 15 persen pada 2002 menjadi lebih dari 25 persen saat ini.

Perdebatan Muncul Setelah Brasil Tersingkir

Perubahan demografi tersebut ikut menjadi bahan perdebatan setelah Brasil tersingkir dari Piala Dunia 2026 usai kalah 1-2 dari Norwegia.

Di media sosial, sebagian warganet mengaitkan kegagalan Selecao dengan perubahan budaya dan identitas sepak bola Brasil. Mereka menilai tim nasional mulai kehilangan ciri khas joga bonito yang selama ini identik dengan permainan kreatif, bebas, dan penuh improvisasi.

Sebagian unggahan bahkan membandingkan generasi Brasil terdahulu yang lekat dengan kultur Katolik dengan skuad saat ini yang banyak diisi pemain Kristen evangelis.

Salah satu meme yang ramai beredar menyebut, "Jika pemain Brasil berdoa seperti gringo, maka mereka juga bermain seperti gringo." Istilah tersebut merujuk pada anggapan sebagian kalangan bahwa budaya born-again Christianity atau kekristenan lahir baru merupakan pengaruh Amerika Serikat yang dianggap berbeda dengan identitas sepak bola Brasil.

Identitas Religius Pemain Jadi Sorotan

Dari 26 pemain yang dibawa Brasil ke Piala Dunia 2026, sedikitnya 20 pemain disebut berasal dari kalangan Kristen evangelis.

Banyak di antara mereka secara terbuka menunjukkan identitas religius melalui unggahan ayat Alkitab di media sosial maupun ucapan syukur kepada Tuhan setelah pertandingan.

Neymar menjadi salah satu sosok yang paling sering dibahas. Penyerang Brasil itu diketahui menjalani baptisan pada 2017 dan sejak saat itu lebih aktif membagikan pesan-pesan keagamaan di akun media sosialnya.

Nama Endrick juga ikut menjadi sorotan setelah gagal memanfaatkan peluang penting saat menghadapi Norwegia. Seusai pertandingan, pemain muda tersebut menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang diterimanya.

Pernyataan itu kemudian memicu kritik dari sebagian pengamat sepak bola Brasil yang menilai para pemain terlalu cepat menyerahkan hasil kepada Tuhan setelah mengalami kekalahan di lapangan.

Meski demikian, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan antara agama mayoritas suatu negara atau keyakinan pribadi para pemain dengan prestasi di Piala Dunia. Dominasi negara-negara tertentu dalam sejarah turnamen lebih banyak dijelaskan oleh faktor tradisi sepak bola, sistem pembinaan pemain, kualitas kompetisi domestik, serta konsistensi pengembangan talenta selama puluhan tahun.

Top of Form

 

Bottom of Form

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0