8 dari 11 Komoditas Pangan Strategis Capai Swasembada, Beras Surplus 3,66 Juta Ton

16 Agu 2026 - 21:47
8 dari 11 Komoditas Pangan Strategis Capai Swasembada, Beras Surplus 3,66 Juta Ton
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Jakarta — Pemerintah berhasil mencapai swasembada pada delapan dari 11 komoditas pangan strategis menjelang perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Capaian tersebut ditopang peningkatan produksi dalam negeri serta perbaikan kebijakan penyerapan hasil panen petani.

Pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Prima Gandhi menilai capaian tersebut layak mendapat apresiasi. Berdasarkan Proyeksi Neraca 11 Komoditas Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 4 Juni 2026, terdapat delapan komoditas yang telah berstatus swasembada.

"Saya melihat capaian swasembada komoditas saat ini sebagai pencapaian yang layak diapresiasi," kata Prima kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/8).

Salah satu komoditas yang menjadi sorotan adalah beras. Produksi beras pada 2026 diproyeksikan mencapai 34,76 juta ton, melampaui kebutuhan nasional yang diperkirakan sebesar 31,10 juta ton.

Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 3,66 juta ton. Kondisi tersebut membuat Indonesia tidak perlu melakukan impor beras medium sejak akhir 2025.

Stok beras di Perum Bulog juga mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni sekitar 5,24 juta ton.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian turut mengapresiasi kinerja pemerintah dalam mendorong swasembada pangan, khususnya pada komoditas beras dan jagung.

"Kita perlu apresiasi kinerja pemerintah dalam mencapai swasembada pangan terutama untuk meningkatkan produksi beras dan jagung," ujar Eliza kepada CNNIndonesia.com, Rabu (12/8).

Menurut Eliza, berhentinya impor untuk memenuhi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tidak terlepas dari kebijakan pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Salah satunya melalui instruksi kepada Bulog untuk meningkatkan penyerapan gabah secara langsung dari petani dengan harga Rp6.500 per kilogram, tanpa membedakan kualitas gabah.

"Jadi sebetulnya kita masih swasembada beras meski kemarin sempat impor karena tidak lebih dari 10 persen impornya terhadap total konsumsi," jelas Eliza.

Ia menambahkan, stok beras yang tersedia saat ini setara dengan lebih dari dua bulan konsumsi nasional. Kondisi tersebut dinilai menjadi penyangga penting bagi ketahanan pangan Indonesia.

Dengan stok yang besar, Bulog memiliki ruang untuk melakukan intervensi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), menyalurkan bantuan pangan, maupun memitigasi kebutuhan akibat bencana tanpa harus secara mendadak melakukan impor.

Selain beras, jagung pakan juga menjadi salah satu komoditas yang telah mencapai swasembada. Prima mencatat produksi jagung pakan diproyeksikan mencapai 18 juta ton, dengan surplus sekitar 1,56 juta ton.

"Surplus ini penting karena menopang rantai pasok pakan ternak unggas yang mendukung swasembada daging ayam dan telur," ujar Prima.

Komoditas lainnya adalah gula konsumsi. Produksinya tercatat sekitar 3,04 juta ton dengan surplus mencapai 207 ribu ton.

Meski demikian, Prima mengingatkan surplus gula konsumsi yang relatif tipis membuat komoditas tersebut masih rentan terhadap gangguan produksi tebu. Ia juga menekankan perlunya membedakan gula konsumsi dengan gula industri yang masih memiliki ketergantungan besar terhadap impor.

Pada 2026, kuota impor gula industri tercatat mencapai 3,12 juta ton.

Sementara itu, komoditas hortikultura seperti cabai besar dan cabai rawit juga mencatat surplus signifikan. Masing-masing diproyeksikan surplus sekitar 581 ribu ton dan 587 ribu ton.

Namun, Prima mengingatkan surplus produksi tidak serta-merta menghilangkan risiko gejolak harga.

"Namun, secara historis komoditas hortikultura ini tetap rawan lonjakan harga musiman karena sifat produksinya yang mudah rusak dan terkonsentrasi di sentra tertentu," katanya.

Di sektor peternakan, daging ayam ras juga tercatat mencapai surplus, meskipun relatif tipis, yakni sekitar 44 ton. Bahkan, sebagian surplus tersebut diarahkan untuk kebutuhan ekspor.

Adapun telur ayam ras mencatat surplus yang jauh lebih besar, mencapai sekitar 516 ribu ton dari total produksi 6,98 juta ton.

Menurut Prima, kedua komoditas tersebut memiliki posisi strategis karena menjadi sumber protein hewani yang relatif terjangkau bagi masyarakat.

"Keduanya strategis sebagai sumber protein hewani termurah yang mendukung program gizi nasional seperti Makan Bergizi Gratis," ujarnya.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0