Bahlil Ajak Investor Bangun Data Center di Indonesia, Soroti Potensi Energi Hijau Papua dan Kalimantan

25 Sep 2026 - 09:17
Bahlil Ajak Investor Bangun Data Center di Indonesia, Soroti Potensi Energi Hijau Papua dan Kalimantan
Foto: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat menyampaikan sambutan dalam Pembukaan Electricity Connect 2026 di Jakarta, Selasa (22/9/2026). (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM)

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajak investor global untuk membangun pusat data atau data center di Indonesia. Pemerintah menilai ketersediaan sumber energi yang melimpah menjadi salah satu keunggulan Indonesia untuk mendukung pertumbuhan industri digital.

Bahlil mengatakan Indonesia memiliki potensi energi terbarukan dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik industri data center. Salah satunya berasal dari potensi tenaga air di Sungai Mamberamo, Papua, yang diperkirakan mencapai sekitar 23 gigawatt (GW).

Selain itu, potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sungai Kayan, Kalimantan, disebut mencapai sekitar 12 GW.

"Kita tahu bahwa di beberapa negara sekarang kebutuhan terhadap energi sudah mulai ngos-ngosan, apalagi energi baru terbarukan. Data center, wah, ini banyak sekali. Bapak-Ibu semua, para investor tidak perlu ragu kalau mau membangun data center di Indonesia," ujar Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, dikutip Kamis (24/9/2026).

Menurut Bahlil, meningkatnya kebutuhan energi untuk mendukung perkembangan industri digital menjadi tantangan bagi sejumlah negara. Di sisi lain, kebutuhan terhadap energi baru terbarukan (EBT) juga terus meningkat seiring dengan tuntutan penggunaan sumber energi yang lebih rendah emisi.

Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi pusat data dengan menawarkan pasokan energi bersih dari berbagai wilayah.

Indonesia, kata Bahlil, memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan sumber energi yang beragam. Potensi tersebut mencakup energi surya, tenaga air, panas bumi, hingga angin.

"Ada yang mau membangun di Kalimantan, ada yang di Sumatra. Kalau ada yang butuh tenaga air, PLTA di Papua, di Sungai Mamberamo itu potensinya 23 gigawatt. Kalau di Kalimantan, di Kayan, kurang lebih sekitar 12 gigawatt. Banyak sekali," jelasnya.

Target Penambahan Pembangkit 69,5 GW

Bahlil mengatakan ketersediaan energi bersih menjadi salah satu pertimbangan penting bagi industri data center global. Pasalnya, industri tersebut membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar sekaligus menghadapi tuntutan untuk menggunakan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Pemerintah, lanjutnya, terus memperkuat pengembangan energi terbarukan sebagai bagian dari upaya mencapai target emisi nol bersih (net zero emission) pada 2050 hingga 2060.

Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Rencana tersebut menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW.

Dari total tambahan kapasitas tersebut, sekitar 70% ditargetkan berasal dari sumber energi baru terbarukan.

Selain itu, pemerintah tengah mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas mencapai 100 GW. Program tersebut ditargetkan dapat direalisasikan dalam tiga tahun.

"Ini bukan hanya sekadar tema, tetapi langsung dibuat program yang konkret," tegas Bahlil.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0