INKA Tertekan Utang Rp4,7 Triliun dan Rugi Rp670 Miliar, Danantara Siapkan Tambahan Modal
Jakarta — PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA tengah menghadapi tekanan keuangan. Perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang industri perkeretaapian tersebut tercatat memiliki pinjaman tidak berkelanjutan mencapai Rp4,7 triliun dan membukukan kerugian sekitar Rp670 miliar.
Kondisi tersebut mendorong Danantara Indonesia menyiapkan tambahan modal untuk memperkuat kondisi keuangan sekaligus meningkatkan kapasitas produksi INKA.
Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan penguatan permodalan INKA menjadi bagian dari transformasi BUMN sektor industri.
Menurut Dony, transformasi tersebut penting seiring dengan arah pengembangan transportasi publik Indonesia yang akan semakin mengandalkan moda transportasi berbasis kereta api.
"Karena memang transformasi transportasi publik kita itu akan lebih banyak di kereta api, maka kita dorong transformasi INKA-nya juga berjalan baik," ujar Dony dalam paparannya di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Kapasitas Produksi INKA Perlu Ditingkatkan
Dony mengatakan penguatan INKA diperlukan karena kapasitas produksi perusahaan saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pengadaan sarana perkeretaapian nasional.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Danantara menyiapkan sejumlah langkah perbaikan terhadap perusahaan.
Tambahan modal nantinya diarahkan untuk mendukung peningkatan kemampuan produksi INKA sehingga perusahaan dapat memiliki kapasitas yang lebih memadai dalam memenuhi kebutuhan sarana transportasi berbasis kereta api.
"INKA perlu kita transformasi karena kapasitas produksinya belum bisa memenuhi kebutuhan kita," kata Dony.
Menurut dia, peningkatan kapasitas produksi menjadi penting karena kebutuhan terhadap sarana perkeretaapian diperkirakan terus berkembang sejalan dengan transformasi transportasi publik nasional.
Keuangan INKA Ikut Jadi Sorotan
Selain kapasitas produksi, Danantara juga menyoroti kondisi keuangan INKA yang membutuhkan pembenahan.
Perusahaan disebut memiliki ekuitas negatif, pinjaman tidak berkelanjutan sebesar Rp4,7 triliun, serta mengalami kerugian sekitar Rp670 miliar.
Kondisi tersebut membuat restrukturisasi dan perbaikan fundamental perusahaan menjadi bagian penting dalam proses transformasi INKA.
Dony sebelumnya menegaskan pembenahan INKA tidak hanya menyangkut tambahan modal, tetapi harus dilakukan secara menyeluruh.
Aspek yang perlu dibenahi mencakup model bisnis, tata kelola, budaya kerja, produksi, operasional, teknik, keuangan, hingga proses bisnis perusahaan.
Dengan demikian, suntikan modal yang disiapkan Danantara diharapkan tidak hanya digunakan untuk memperkuat struktur keuangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kinerja dan kapasitas industri perkeretaapian nasional.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0