Tabungan Nasabah di Bawah Rp100 Juta Melambat, Fenomena Makan Tabungan Masih Membayangi Kelas Menengah

02 Okt 2026 - 19:20
Tabungan Nasabah di Bawah Rp100 Juta Melambat, Fenomena Makan Tabungan Masih Membayangi Kelas Menengah
Ilustrasi kelas menengah Indonesia (Unair)

Jakarta — Tekanan terhadap kondisi keuangan rumah tangga masyarakat kelas menengah bawah masih menjadi perhatian. Salah satu indikasinya tercermin dari perlambatan pertumbuhan simpanan nasabah dengan nominal di bawah Rp100 juta pada Juli 2026.

Pertumbuhan simpanan pada segmen tersebut tercatat sekitar 4,7% secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026. Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan pada Juni 2026 yang mencapai 5,2% yoy.

Perlambatan pertumbuhan simpanan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian masyarakat masih menghadapi tekanan dalam mengelola keuangan rumah tangga. Dana tabungan berpotensi lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari, yang kerap disebut sebagai fenomena makan tabungan.

Pengamat perbankan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, kondisi tersebut tidak terlepas dari daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

“Karena daya beli yang belum membaik sehingga kelas menengah masih lesu dan dampaknya fenomena makan tabungan tidak bisa dihindari,” ujar Trioksa kepada Kontan.co.id, Jumat (2/10/2026).

Menurut Trioksa, tekanan terhadap kelompok kelas menengah masih berpotensi berlanjut hingga akhir tahun apabila tidak terdapat perbaikan signifikan pada daya beli masyarakat.

“Trennya sepertinya masih cukup berat sampai akhir tahun bila tidak ada perbaikan. Kelas menengah masih akan terhimpit,” katanya.

Ia menilai masyarakat kelas menengah perlu memperkuat sumber pendapatan rumah tangga untuk menghadapi kondisi tersebut. Salah satunya dengan tidak hanya mengandalkan satu sumber penghasilan.

“Strategi bagi kelas menengah adalah jangan mengandalkan hanya satu penghasilan, perlu bekerja lebih keras untuk mencari penghasilan tambahan,” tutur Trioksa.

BTN: Tantangan Daya Beli Belum Menunjukkan Pelemahan Fundamental

Sementara itu, Direktur Network and Retail Funding PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Rully Setiawan mengatakan, segmen masyarakat menengah bawah memang masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi daya beli dan pengelolaan arus kas rumah tangga.

Namun, menurut Rully, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya pelemahan fundamental secara permanen.

BTN mencermati perkembangan simpanan sekaligus perilaku transaksi nasabah secara lebih terperinci. Menurut Rully, kebutuhan masyarakat terhadap produk simpanan masih cukup tinggi, terutama untuk kebutuhan transaksi, penggajian (payroll), penerimaan pendapatan, hingga kebutuhan yang berkaitan dengan pembiayaan perumahan.

“Memang terdapat kecenderungan sebagian nasabah lebih aktif menggunakan tabungannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, di sisi lain, basis dana masyarakat yang bersifat transaksional masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar,” kata Rully.

Karena itu, BTN tidak hanya melihat perkembangan nominal saldo simpanan. Bank juga memperhatikan aktivitas transaksi, keterlibatan nasabah (customer engagement), serta potensi peningkatan saldo secara bertahap.

Untuk 2026, Rully melihat tekanan terhadap masyarakat kelas menengah bawah masih menjadi dinamika yang perlu diperhatikan. Namun, ia juga melihat terdapat ruang perbaikan seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi, mobilitas masyarakat, serta aktivitas sektor-sektor yang menjadi basis ekonomi masyarakat.

BTN juga melihat peluang untuk memperluas basis dana murah melalui ekosistem perumahan. Ekosistem tersebut mencakup payroll, pengembang (developer), pekerja, komunitas, hingga berbagai transaksi yang berkaitan dengan kebutuhan perumahan.

“Dengan demikian, kami melihat 2026 bukan hanya sebagai tahun untuk mempertahankan dana, tetapi juga sebagai momentum untuk memperluas basis funding dan meningkatkan kualitas CASA secara berkelanjutan,” ujar Rully.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0