Bappenas Dorong Budidaya Ikan Nila Rendah Karbon untuk Tembus Pasar AS dan Kanada

03 Okt 2026 - 22:03
Bappenas Dorong Budidaya Ikan Nila Rendah Karbon untuk Tembus Pasar AS dan Kanada
Budi daya ikan nila melalui keramba jaring apung (rri.co.id)

Jakarta — Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mendorong penerapan budi daya perikanan rendah karbon untuk meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar ekspor premium.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah ikan nila. Bappenas menilai penerapan budi daya berkelanjutan dapat membuka akses ikan nila Indonesia ke pasar premium seperti Amerika Serikat (AS) dan Kanada yang semakin menuntut ketertelusuran (traceability) produk.

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas Leonardo Adypurnama mengatakan, tuntutan ketertelusuran produk perikanan di pasar global kini tidak lagi sebatas memastikan asal produk.

Menurutnya, konsumen dan pasar internasional juga semakin memperhatikan bagaimana produk perikanan tersebut dihasilkan, termasuk aspek keberlanjutan dalam proses produksinya.

“Pembangunan rendah karbon ini tidak semata-mata atau perubahan dari bagaimana kita menghasilkan ikan, terutama melalui aquaculture ini tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Tapi sebenarnya merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk melaksanakan pembangunan rendah karbon,” ujar Leonardo saat meninjau Keramba Jaring Apung (KJA) milik PT Suri Tani Pemuka (Japfa) di Danau Toba, Sumatera Utara.

Indonesia Perlu Kejar Vietnam

Leonardo mengatakan, Indonesia sebelumnya menempati posisi kedua sebagai produsen sekaligus eksportir ikan nila dunia. Namun, posisi tersebut pada 2025 disalip oleh Vietnam.

Kondisi itu menjadi tantangan bagi Indonesia untuk kembali meningkatkan posisi di pasar ikan nila global. Upaya tersebut tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi, tetapi juga peningkatan kualitas dan daya saing agar produk Indonesia dapat masuk ke pasar dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Karena itu kita perlu mengejar kembali posisi itu dengan meningkatkan produksi sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar premium,” ujarnya.

Menurut Leonardo, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah menerapkan praktik budi daya yang memperhatikan aspek lingkungan sejak proses produksi.

Penerapan budi daya rendah karbon antara lain dilakukan melalui penggunaan pakan dan desain keramba yang disesuaikan dengan kebutuhan ikan serta daya dukung lingkungan.

Teknologi pakan juga dikembangkan untuk mengurangi penggunaan fosfor. Langkah tersebut penting untuk menekan potensi pencemaran perairan, termasuk ekosistem danau yang menjadi lokasi budi daya.

Dengan pendekatan tersebut, peningkatan produksi perikanan diharapkan tetap berjalan tanpa mengabaikan keberlanjutan ekosistem tempat kegiatan budi daya dilakukan.

Bagian dari Transformasi Ekonomi Hijau

Bappenas menempatkan pembangunan rendah karbon sebagai salah satu bagian penting dalam transformasi ekonomi hijau yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.

Kementerian PPN/Bappenas mengintegrasikan agenda Pembangunan Rendah Karbon (PRK) dan Berketahanan Iklim untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca.

Implementasi PRK mencakup sejumlah sektor, mulai dari transisi energi, pengelolaan lahan dan ekosistem karbon biru, ekonomi sirkular, industri hijau, hingga transportasi ramah lingkungan.

Melalui berbagai intervensi tersebut, PRK menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89 persen hingga 43,2 persen pada 2030.

Dalam konteks sektor perikanan, penerapan budi daya rendah karbon menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan peningkatan produktivitas dengan perlindungan lingkungan.

Selain membantu memenuhi tuntutan pasar global terhadap produk yang dapat ditelusuri dan diproduksi secara berkelanjutan, pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi komoditas perikanan Indonesia dalam rantai pasok global.

Dengan meningkatnya persyaratan keberlanjutan di pasar ekspor, kemampuan menunjukkan asal-usul sekaligus proses produksi yang ramah lingkungan menjadi salah satu faktor yang semakin penting bagi produk ikan Indonesia untuk bersaing di pasar premium.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0