BMKG: El Nino Sangat Kuat hingga Awal 2027, Awal Musim Hujan Mundur di 61,08 Persen Wilayah Indonesia

16 Okt 2026 - 03:29
BMKG: El Nino Sangat Kuat hingga Awal 2027, Awal Musim Hujan Mundur di 61,08 Persen Wilayah Indonesia
El Nino Perparah Kekeringan Sawah di Jonggol. (KLY/ Arie Basuki)

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan dampak fenomena El Nino yang masih berada pada kategori sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini berpotensi mengurangi curah hujan di Indonesia serta meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachry Radjab mengatakan, indeks anomali suhu yang disampaikan dalam pemaparan di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Rabu (14/10/2026), mencapai positif 3,7.

“Seperti telah kami sampaikan di awal tahun 2026, yaitu di bulan Maret bahwa musim kemarau kita tahun ini akan berbarengan dengan aktifnya fenomena El Nino dan sampai saat ini El Nino masih aktif, sehingga indeks anomali suhunya itu positif 3.7, artinya ini sangat kuat. El Nino yang sangat kuat,” kata Fachry.

Menurut dia, kondisi suhu muka laut di Samudra Pasifik turut menunjukkan kuatnya fenomena tersebut. Dampaknya, curah hujan di Indonesia berpotensi semakin berkurang.

“Suhu muka di sana sudah sangat kuat sehingga berpengaruh ke Indonesia semakin berkurangnya jumlah curah hujan,” ujar Fachry.

BMKG memprediksi sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia akan mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan kondisi normal.

Meski awal musim hujan diperkirakan datang lebih lambat, Fachry menjelaskan bahwa puncak musim hujan secara umum tetap berlangsung pada Desember hingga Februari.

“Satu hal yang perlu kami sampaikan juga bahwa awal musim hujan datangnya mundur, tapi puncaknya sama, artinya puncak musim hujan akan tetap terjadi di Desember, Januari, Februari, namun perlu waspada ketika musim hujan langsung puncak,” ujarnya.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena peralihan menuju musim hujan dapat diikuti peningkatan curah hujan dalam waktu yang relatif singkat di sejumlah wilayah.

BMKG pun mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi basah, terutama banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

“Ini perlu menjadi kewaspadaan kita terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, banjir bandang, dan longsor,” kata Fachry.

Fachry menjelaskan, pola musim hujan di Indonesia tidak seragam. Sebagian besar wilayah umumnya mengalami puncak musim hujan pada Desember, Januari, hingga Februari.

Namun, sejumlah wilayah di Indonesia bagian timur memiliki pola berbeda. Maluku dan Papua, misalnya, diperkirakan mengalami puncak musim hujan sekitar Mei.

“Ini memang pola yang umum, artinya memang tidak semua wilayah Indonesia itu sama, gitu ya, curah hujannya. Seperti di Indonesia Timur, Maluku, Papua nanti justru puncak musim penghujungnya itu di sekitar bulan Mei. Tapi di wilayah lain pada umumnya puncak musim hujan adalah di Desember, Januari, Februari,” ungkap Fachry.

Perbedaan pola tersebut membuat masyarakat perlu memperhatikan informasi prakiraan musim dan peringatan dini cuaca sesuai wilayah masing-masing.

Meski El Nino diprediksi bertahan hingga awal 2027, Fachry menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak menghilangkan siklus musim kemarau dan musim hujan di Indonesia.

Menurut dia, El Nino dan pergantian musim merupakan dua fenomena berbeda yang saling memengaruhi. Musim hujan tetap akan terjadi, sementara dampak El Nino terhadap kondisi curah hujan dapat berkurang ketika musim hujan tiba.

“Jadi musim kemarau ataupun musim hujan akan selalu terjadi di Indonesia, tidak dipengaruhi ada atau tidak adanya El Nino,” terang Fachry.

BMKG mengimbau masyarakat untuk mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan informasi musim terbaru agar dapat mengantisipasi dampak perubahan kondisi iklim di wilayah masing-masing.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0