Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tewaskan Sedikitnya 3.700 Orang, Prancis Catat Korban Terbanyak

04 Jul 2026 - 00:35
Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tewaskan Sedikitnya 3.700 Orang, Prancis Catat Korban Terbanyak
Ilustrasi kota di Eropa saat gelombang panas melanda, warga tetap beraktivitas di luar ruangan. (unsplash/richardvnlb)

Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian wilayah Eropa pada akhir Juni 2026 mengakibatkan sedikitnya 3.700 kematian berlebih (excess deaths) di Prancis, Belgia, dan Belanda. Otoritas kesehatan di ketiga negara menyatakan jumlah tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi meningkat seiring penyempurnaan proses pencatatan.

Mengutip Reuters, gelombang panas yang berlangsung sekitar 20–28 Juni 2026 itu disebut sebagai salah satu yang paling parah yang pernah terjadi di Eropa. Selain memicu lonjakan angka kematian, suhu yang sangat tinggi juga mengganggu operasional pembangkit listrik, merusak infrastruktur, serta meningkatkan beban layanan kesehatan di sejumlah negara.

Para ilmuwan menilai cuaca ekstrem tersebut hampir pasti dipengaruhi oleh perubahan iklim yang membuat gelombang panas menjadi lebih sering, lebih intens dan berlangsung lebih lama.

Di Prancis, Menteri Kesehatan Stephanie Rist mengungkapkan sebanyak 2.025 kematian berlebih tercatat selama periode gelombang panas. Peningkatan angka kematian paling signifikan terjadi pada kelompok masyarakat berusia di atas 45 tahun.

Otoritas kesehatan masyarakat Prancis juga melaporkan jumlah kematian yang terjadi di rumah meningkat hingga 91 persen pada periode 22–28 Juni dibandingkan pekan sebelumnya. Kematian di panti jompo maupun fasilitas pelayanan kesehatan turut mengalami kenaikan.

"Mortalitas kemungkinan akan lebih tinggi dibandingkan angka awal yang telah dilaporkan," demikian pernyataan otoritas kesehatan Prancis.

Sementara itu, Belgia melaporkan sekitar 1.200 kematian berlebih sepanjang periode 18–29 Juni. Kementerian Kesehatan Belgia menyebut sekitar 530 korban meninggal berasal dari kelompok usia 85 tahun ke atas, sedangkan sekitar 180 kematian terjadi pada penduduk berusia di bawah 65 tahun.

"Kematian berlebih dalam jumlah seperti ini saat gelombang panas belum pernah terjadi sebelumnya di negara kami," kata Kementerian Kesehatan Belgia.

Di Belanda, pemerintah mencatat sekitar 480 kematian berlebih yang dikaitkan dengan cuaca panas. Sebagian besar korban merupakan penduduk berusia di atas 80 tahun.

Gelombang panas kali ini kembali menyoroti dampak serius perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat. Kelompok lanjut usia, penderita penyakit kronis, serta masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan dinilai menjadi kelompok paling rentan ketika suhu ekstrem berlangsung dalam waktu yang lama.

Pakar kesehatan masyarakat mengingatkan bahwa angka kematian akibat gelombang panas sering kali baru diketahui secara pasti setelah dilakukan analisis data mortalitas dalam beberapa pekan atau bulan setelah kejadian. Karena itu, jumlah korban di Prancis, Belgia, dan Belanda masih berpotensi bertambah seiring pembaruan data resmi dari masing-masing negara.

Top of Form

 

Bottom of Form

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0