Puluhan Ribu Migran Masuk Ceuta, Krisis Perbatasan Spanyol-Maroko Kembali Memanas

02 Agu 2026 - 11:40
Puluhan Ribu Migran Masuk Ceuta, Krisis Perbatasan Spanyol-Maroko Kembali Memanas
Para imigran Maroko memasuki wilayah Spanyol (Foto: Aspek.id)

Jakarta – Krisis migrasi kembali mengguncang perbatasan Spanyol dan Maroko setelah puluhan ribu warga Maroko dilaporkan berenang dan menyeberang secara ilegal menuju Ceuta, wilayah otonom Spanyol di pesisir Afrika Utara. Dalam insiden tersebut, sedikitnya 67 orang dilaporkan meninggal dunia saat berupaya mencapai wilayah Eropa.

Ceuta selama ini menjadi salah satu pintu masuk utama bagi para migran yang ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik di Eropa. Meski pemerintah Spanyol terus memperketat pengamanan perbatasan, upaya penyeberangan ilegal masih terus terjadi.

Mengutip Time, Kementerian Dalam Negeri Spanyol pada Jumat (31/7/2026) menyatakan hampir 50.000 migran memasuki Ceuta sejak Kamis pagi. Jumlah tersebut menjadi salah satu gelombang migrasi terbesar yang pernah terjadi di wilayah tersebut dalam waktu singkat.

Lonjakan migran memicu beragam spekulasi mengenai penyebab di balik peristiwa tersebut. Menurut laporan The New York Times, sejumlah kelompok sayap kanan di Eropa yang mendapat dukungan dari Gedung Putih menuding kebijakan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez yang dinilai pro-migran sebagai faktor pendorong meningkatnya arus migrasi.

Namun, Sanchez menolak tudingan tersebut. Ia menyebut gelombang migrasi lebih dipicu oleh jaringan penyelundup manusia yang memberikan informasi menyesatkan kepada para migran sehingga mereka percaya dapat dengan mudah menetap di wilayah Spanyol.

Di sisi lain, sejumlah migran justru mengaku kepada media bahwa aparat keamanan Maroko membiarkan bahkan mendorong mereka menuju perbatasan Ceuta.

Biasanya, aparat Maroko membatasi akses menuju wilayah perbatasan. Namun, pada pekan ini sejumlah saksi menyebut polisi Maroko tidak menghalangi ribuan orang yang bergerak menuju pagar pembatas Spanyol, sehingga mereka dapat mendekati kawasan tersebut dengan relatif mudah.

Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa pemerintah Maroko sengaja menggunakan arus migrasi sebagai instrumen tekanan politik terhadap Spanyol.

Sejumlah analis menilai langkah tersebut berkaitan dengan dinamika hubungan diplomatik di kawasan Afrika Utara. Maroko diduga ingin mengingatkan Spanyol agar tidak semakin mempererat hubungan dengan Aljazair, negara tetangga yang selama ini menjadi rival geopolitiknya.

Peneliti senior bidang migrasi dari Universitas Pompeu Fabra di Barcelona, Lorenzo Gabrielli, menilai sulit membayangkan puluhan ribu orang dapat melintasi perbatasan tanpa adanya peran otoritas Maroko.

"Hampir mustahil sekitar 50.000 orang bisa melintasi perbatasan Maroko-Spanyol dalam satu hari tanpa ada peran Maroko," kata Gabrielli.

Pedro Sanchez selama ini dikenal sebagai salah satu pemimpin Eropa yang mendukung kebijakan migrasi yang lebih terbuka. Ia juga menjadi pengkritik kebijakan penanganan migran yang diterapkan pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat.

Pada awal 2026, Sanchez menjadi perhatian internasional setelah pemerintahannya membuka kesempatan bagi lebih dari satu juta migran ilegal di Spanyol untuk mengajukan legalisasi status tinggal.

Meski demikian, Sanchez menegaskan bahwa lonjakan migrasi kali ini lebih disebabkan oleh kesalahpahaman yang dimanfaatkan jaringan penyelundup manusia. Menurutnya, para penyelundup memanfaatkan putusan pengadilan Spanyol yang membatasi kewenangan aparat dalam mendeportasi migran yang berenang menuju wilayah Spanyol di Afrika, sehingga memunculkan anggapan bahwa penyeberangan ke Ceuta akan berujung pada kesempatan tinggal di negara tersebut.

Top of Form

 

Bottom of Form

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0