Hasto Imbau Masyarakat Tak Gelar Demo Agustus
Surabaya - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengimbau masyarakat menahan diri dan tidak menggelar aksi demonstrasi sepanjang Agustus 2026. Menurut Hasto, bulan tersebut bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sehingga sebaiknya diisi dengan kegiatan yang membangun serta mengenang perjuangan para pendiri bangsa.
Imbauan itu disampaikan Hasto di Museum HOS Tjokroaminoto, Surabaya, Senin (10/8/2026). Pernyataan tersebut disampaikan di tengah munculnya berbagai rumor mengenai rencana aksi demonstrasi besar-besaran sepanjang Agustus.
"Kami mengajak seluruh komponen bangsa agar mari kita jaga ya kesakralan pada bulan Agustus. Maka bulan Agustus kalau kemarin ada isu-isu demo ya sebaiknya janganlah di situ," ungkap Hasto.
Meski mengimbau agar demonstrasi tidak dilakukan pada momentum tersebut, Hasto menegaskan PDIP tetap menghormati hak konstitusional masyarakat untuk berserikat dan menyampaikan pendapat di muka umum.
"Memang demonstrasi itu kebebasan berserikat, kebebasan menyampaikan pendapat itu kan dijamin dalam konstitusi. Nah, PDI Perjuangan respect dan kami berjuang bagi amanat konstitusi itu," ujarnya.
Hasto mengatakan masyarakat tetap memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan aspirasi. Namun, ia mengajak seluruh elemen bangsa mempertimbangkan momentum Agustus dengan mengisinya melalui berbagai kegiatan positif di tengah beragam persoalan yang sedang dihadapi bangsa.
"Tapi mari pada bulan Agustus ini dengan melihat berbagai problematika bangsa yang tidak mudah itu baiknya kita isi dengan hal-hal yang yang positif. Meskipun kita enggak bisa melarang berbagai bentuk ekspresi melalui demonstrasi karena itu hak konstitusional yang dijamin oleh konstitusinya," ucapnya.
Menurut Hasto, bulan kemerdekaan dapat menjadi momentum untuk kembali menggali nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa. Nilai tersebut, kata dia, perlu diterjemahkan ke dalam agenda dan kebijakan yang memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.
"Skala prioritas kita saat ini pada bulan Agustus ini lebih baik kita menggali dan kemudian melihat relevansi dan kemudian merumuskan agenda apa yang harus kita lakukan, tanpa menghilangkan berbagai suara-suara kritis untuk terus dapat disuarakan," bebernya.
Hasto juga menjelaskan alasan historis di balik ajakannya. Ia menyebut 17 Agustus memiliki sejumlah catatan sejarah penting, termasuk Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, serta tanggal wafatnya pencipta lagu "Indonesia Raya", WR Soepratman.
"WR Soepratman beliau kan selawatnya tanggal 17 Agustus. Jangan-jangan Bung Karno juga menetapkan 17 Agustus. Itu juga untuk menghormati WR Soepartman karena Bung Karno mencoba dipaksa sampai diculik ke Rengasdengklok," ujarnya.
Selain itu, Hasto menyinggung kembali semangat pembebasan yang dikaitkannya dengan pemikiran Bung Karno mengenai rakyat marhaen. Menurutnya, semangat tersebut kembali digelorakan melalui peluncuran buku bertajuk "Marhenisme untuk Generasi Z".
Hasto juga mengutip peringatan Sukidi, seorang pemikir kebhinekaan lulusan Harvard University, mengenai bahaya otoritarianisme di balik watak populis.
"Maka dalam rangka peringatan 17 Agustus 1945 spirit pembebasan Bung Karno terhadap rakyat Marhen, itu juga kami gelorakan kembali," jelas Hasto.
Hasto berharap momentum peringatan kemerdekaan tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah, tetapi juga digunakan untuk merumuskan agenda yang relevan dengan persoalan bangsa saat ini. Ia tetap menekankan pentingnya menjaga ruang bagi suara-suara kritis sebagai bagian dari kehidupan demokrasi.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0