Jelang Mubes The Jakmania, Ketua KPID Soroti Keterbukaan dan Partisipasi Anggota Organisasi
Jakarta - Musyawarah Besar (Mubes) The Jakmania yang akan segera digelar mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk Ketua KPID DKI Jakarta Ahmad Sulhy. Sebagai sosok yang dikenal sebagai pencinta Persija, Sulhy memandang Mubes bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan, melainkan momentum penting untuk menunjukkan kedewasaan organisasi suporter terbesar Persija dalam mengelola dinamika internal sekaligus menjaga semangat kebersamaan.
Menurut Sulhy, The Jakmania memiliki posisi strategis sebagai salah satu representasi wajah sosial Jakarta. Organisasi suporter tersebut tidak hanya dikenal karena dukungannya terhadap Persija, tetapi juga karena perannya dalam menjaga identitas dan kebanggaan ibu kota melalui kultur suporter.
Karena itu, ia menilai setiap proses yang berlangsung dalam Musyawarah Besar akan menjadi perhatian publik. Mubes dinilai bukan hanya menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana The Jakmania mengelola perbedaan pendapat di antara para anggotanya.
Dalam pandangannya, salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah penerapan administrasi organisasi. Sulhy menilai sistem administrasi memang dibutuhkan untuk menjaga ketertiban organisasi. Namun, menurutnya, administrasi tidak boleh dipahami sebatas pemenuhan syarat formal tanpa melihat tujuan utama dari keberadaan aturan tersebut.
"Administrasi kaku terjadi ketika aturan hanya dibaca sebagai syarat formal, tetapi kehilangan semangat dasarnya untuk menata organisasi, membuka partisipasi, dan menjaga kebersamaan," ujar Sulhy saat dihubungi, Kamis (2/7).
Sulhy menjelaskan, keberadaan mekanisme administratif seperti kepemilikan Kartu Tanda Anggota (KTA) merupakan bagian penting dalam tata kelola organisasi. Meski demikian, ia mengingatkan agar ketentuan tersebut tidak berubah menjadi penghalang bagi anggota yang memiliki niat baik untuk berkontribusi bagi organisasi maupun Persija.
"Aturan tidak boleh berubah menjadi pagar yang membuat orang-orang yang punya niat baik serta semangat kepada Persija dan Jakmania merasa tidak mendapat ruang," tegasnya.
Lebih lanjut, Sulhy berharap penyelenggaraan Mubes mampu menghadirkan ruang yang terbuka bagi seluruh elemen The Jakmania. Menurutnya, forum tersebut semestinya menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai gagasan demi kemajuan organisasi, bukan menjadi arena yang memisahkan kelompok-kelompok tertentu.
Ia menegaskan bahwa setiap anggota yang memiliki semangat membangun organisasi seharusnya memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam proses Musyawarah Besar.
"Ruang terbuka berarti setiap orang yang memiliki keinginan dan semangat mengaplikasikan cinta kepada Persija melalui Jakmania, diberi kesempatan yang adil untuk berpartisipasi," jelas Sulhy.
Sulhy juga mengajak seluruh anggota untuk kembali mengingat nilai dasar yang selama ini menjadi identitas The Jakmania sebagai organisasi yang inklusif. Menurutnya, perbedaan latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang dalam menjaga persatuan, karena seluruh anggota memiliki tujuan yang sama ketika memberikan dukungan kepada Persija.
"Latar belakang boleh beda, tapi ketika Persija tanding, doa dan harapan kita sama. Ruh itulah yang harus dibawa dalam Mubes. Mubes harus sportif, terbuka, menggembirakan, dan memberi ruang bagi gagasan baru," lanjutnya.
Di sisi lain, Sulhy menilai dinamika yang muncul menjelang pelaksanaan Mubes merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi. Bahkan, ia menganggap tingginya perhatian terhadap proses tersebut menunjukkan bahwa banyak pihak memiliki kepedulian terhadap masa depan The Jakmania.
Baginya, munculnya berbagai pandangan maupun perbedaan sikap merupakan bagian dari kehidupan organisasi yang sehat. Namun, ia mengingatkan agar dinamika tersebut tidak berkembang menjadi konflik yang justru merugikan organisasi.
Musyawarah Besar seharusnya menjadi forum untuk saling bertukar gagasan, mempererat hubungan antarsesama anggota, sekaligus menghadirkan pembaruan bagi organisasi. Ia berharap seluruh proses berlangsung dalam suasana yang kondusif sehingga menghasilkan keputusan terbaik bagi The Jakmania.
"Saya mengapresiasi dan salut dengan dinamika The Jakmania. Ini pertanda bahwa masa depan organisasi ini dianggap penting oleh banyak orang. Namun, yang perlu diingat, dinamika itu jangan sampai berubah menjadi pertikaian. Mubes seharusnya menjadi ruang gagasan, silaturahmi, pembaruan, dan kegembiraan, bukan ruang ketegangan," ujar Ketua KPID DKI Jakarta ini.
Menjelang pelaksanaan Mubes, Sulhy kembali mengingatkan pentingnya menjaga kedewasaan seluruh pihak yang terlibat dalam proses organisasi. Ia berharap siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin The Jakmania mampu menjaga soliditas organisasi sekaligus memastikan dukungan terhadap Persija tetap menjadi prioritas utama.
Menurutnya, hasil Musyawarah Besar bukanlah satu-satunya hal yang penting. Proses yang dijalani selama Mubes juga akan menjadi cerminan kualitas organisasi di mata publik. Karena itu, ia berharap seluruh tahapan berlangsung secara terbuka, sportif, dan tetap menjunjung semangat persaudaraan di antara anggota.
Di penghujung keterangannya, Sulhy menekankan bahwa kebersamaan harus tetap menjadi fondasi utama The Jakmania. Ia berharap semangat mendukung Persija tidak terganggu oleh dinamika internal organisasi.
"Siapa pun nanti yang dipercaya memimpin, yang paling penting adalah Jakmania tetap solid, Persija mendapat dukungan terbaik, dan Jakarta bangga dengan kultur suporternya. Jangan sampai proses Mubes yang kurang elok justru menghadirkan tanda tanya besar bagi publik: ada apa dengan The Jakmania?" pungkasnya.
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0