Negosiator Ransomware di AS Dipenjara 70 Bulan, Bocorkan Rahasia Korban ke Hacker BlackCat

21 Jul 2026 - 10:47
Negosiator Ransomware di AS Dipenjara 70 Bulan, Bocorkan Rahasia Korban ke Hacker BlackCat
Ilustrasi ransomware.(betanews.com)

Jakarta - Seorang negosiator ransomware di Amerika Serikat dijatuhi hukuman penjara hampir enam tahun setelah terbukti bersekongkol dengan kelompok peretas BlackCat (ALPHV) untuk memeras korban serangan siber yang seharusnya ia bantu.

Angelo Martino (41), yang bekerja sebagai negosiator ransomware di perusahaan keamanan siber DigitalMint, dijatuhi hukuman 70 bulan penjara atau sekitar 5 tahun 10 bulan. Putusan tersebut dijatuhkan setelah Martino mengaku bersalah atas dakwaan pemerasan terkait kerja samanya dengan kelompok ransomware BlackCat.

Berdasarkan keterangan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ), Martino menyalahgunakan posisinya dengan membocorkan informasi rahasia milik korban kepada para pelaku ransomware. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk meningkatkan nilai uang tebusan yang harus dibayar korban.

“Martino memberikan informasi negosiasi rahasia kepada penjahat siber untuk memaksimalkan uang tebusan dengan imbalan,” tulis pemerintah AS dalam memorandum hukuman.

Bocorkan Strategi Negosiasi Korban

Sebagai negosiator ransomware, Martino bertugas mewakili perusahaan korban untuk berunding dengan kelompok peretas guna menekan nilai tebusan yang diminta. Dalam perannya, ia memiliki akses ke berbagai data sensitif, termasuk nilai tuntutan tebusan, cakupan asuransi siber, hingga strategi negosiasi yang digunakan perusahaan.

Namun sejak April 2023, Martino diketahui menjalin komunikasi rahasia dengan operator BlackCat melalui aplikasi pesan Tox dan saluran obrolan khusus yang digunakan kelompok ransomware tersebut.

Melalui komunikasi itu, ia membagikan informasi penting mengenai kondisi korban, termasuk batas perlindungan asuransi siber dan posisi tawar perusahaan dalam proses negosiasi. Informasi tersebut memungkinkan para pelaku ransomware menentukan tuntutan tebusan yang lebih tinggi.

Akibat aksinya, lima korban yang ditangani Martino dilaporkan membayar lebih dari 75 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,3 triliun kepada afiliasi BlackCat.

Terima Imbalan Kripto Jutaan Dollar

Sebagai imbalan atas informasi yang dibocorkan, Martino menerima jutaan dollar dalam bentuk aset kripto dari kelompok ransomware tersebut.

Menurut dokumen pengadilan, dana hasil kejahatan itu digunakan untuk membeli dua rumah di Florida, sebuah kapal, serta sejumlah kendaraan. FBI kemudian menyita aset kripto yang masih tersisa selama proses penyelidikan.

Selain hukuman penjara, Martino diwajibkan menyerahkan aset miliknya dan membayar 10 persen dari pendapatannya setelah bebas sebagai bagian dari kompensasi kepada para korban.

Sebelumnya, Martino sempat meminta hukuman diringankan menjadi 24 bulan penjara dengan alasan telah membantu penyelidikan yang berujung pada penangkapan dua terdakwa lain. Namun, pengadilan tetap menjatuhkan hukuman sesuai rekomendasi pemerintah AS.

Ikut Menjadi Afiliasi BlackCat

Penyelidikan juga mengungkap bahwa Martino tidak hanya membocorkan informasi korban, tetapi juga bergabung sebagai afiliasi BlackCat pada Mei 2023.

Ia kemudian membagikan akses ke platform ransomware tersebut kepada dua rekannya, yakni Kevin Martin yang juga bekerja sebagai negosiator di DigitalMint dan Ryan Goldberg, manajer insiden di perusahaan keamanan siber Sygnia.

Ketiganya diduga menggunakan platform BlackCat untuk melancarkan serangan ransomware terhadap lima korban lainnya. Salah satu korban, sebuah perusahaan alat kesehatan, diketahui membayar uang tebusan sebesar 1,2 juta dollar AS.

Sementara itu, empat korban lainnya tidak membayar tebusan, tetapi tetap mengalami kerugian akibat serangan yang dilakukan kelompok tersebut.

Kevin Martin dan Ryan Goldberg lebih dahulu dijatuhi hukuman empat tahun penjara pada April 2026.

DigitalMint Klaim Tidak Mengetahui Aksi Martino

Dalam pernyataan resminya, DigitalMint menegaskan bahwa perusahaan tidak mengetahui aktivitas kriminal yang dilakukan Martino selama bekerja di sana.

Perusahaan menyebut Martino dan pihak lain yang terlibat sengaja menyembunyikan aksinya dengan menggunakan saluran komunikasi yang tidak sah.

Setelah menerima informasi dari Departemen Kehakiman AS, DigitalMint mengaku segera memecat seluruh karyawan yang terlibat dan bekerja sama dengan FBI selama proses penyelidikan berlangsung.

“Tindakan Martino dan rekan-rekannya sengaja disembunyikan dari DigitalMint dan jelas melanggar nilai perusahaan, standar etika, serta hukum,” kata pihak DigitalMint.

BlackCat Termasuk Kelompok Ransomware Paling Aktif

BlackCat atau ALPHV dikenal sebagai salah satu kelompok ransomware paling aktif dan berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok ini telah menyerang ratusan organisasi di berbagai sektor, termasuk layanan kesehatan, keuangan, hingga infrastruktur penting.

Salah satu serangan terbesar yang dikaitkan dengan BlackCat terjadi pada Februari 2024 ketika mereka menyerang Change Healthcare. Insiden tersebut menyebabkan gangguan besar pada sistem pembayaran layanan kesehatan di Amerika Serikat dan berdampak pada jutaan pasien serta penyedia layanan kesehatan.

Kasus Martino menjadi salah satu contoh paling mencolok bagaimana ancaman siber tidak hanya datang dari peretas eksternal, tetapi juga dari orang dalam yang memiliki akses terhadap informasi sensitif dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.

 

Bagaimana Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0